“Bisnis Tubuh” di Ruang Digital: Antara Kebutuhan, Gaya Hidup dan Haus Validasi

Syifa FauziahAmin Suciady
Gambar ilustrasi prostitusi (Foto: Freepik)

Perkembangan dunia digital saat ini, seolah tak bisa dipisahkan dengan aktifitas dan kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Sayangnya, perkembangan teknologi ini disikapi dan dimanfaatkan dengan cara yang negatif oleh segelintir orang demi mendapatkan keuntungan pribadi.

Salah satu yang menarik untuk dicermati dan mendapat perhatian khusus oleh pemerintah, yaitu fenomena praktik open booking order (open BO) yang saat ini semakin berkembang, sejalan dengan perkembangan dunia digital. Meski dilarang dan berulang kali ditertibkan, praktik ini tetap menemukan ruang hidupnya sendiri di dunia maya.

Praktik open BO dan praktik sejenisnya semakin tumbuh subur, lantaran kondisi ekonomi masyarakat yang saat ini makin sulit dan terhimpit karena banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Sementara, peluang kerja dan usaha saat ini makin sulit dan memprihatinkan.

Akibatnya cara “instan” pun terpaksa ditempuh, yaitu dengan menyediakan jasa open BO. Termasuk juga penjualan konten negatif atau video porno pribadi di situs berbayar seperti onlyfans dan lain-lain. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, karena banyak masyarakat yang akhirnya terpaksa terjerembab ke dalam “lembah hitam” karena keadaan.

Ironisnya, ada indikasi dan dugaan kuat sejumlah pejabat, tokoh, pengusaha dan bahkan publik figur, yang juga ikut memakai “jasa kenikmatan” tersebut. Entah itu hanya untuk jangka waktu yang pendek, atau untuk jangka waktu yang lama dengan status sebagai wanita/istri simpanan. Hal ini pun sebenarnya sudah menjadi “rahasia umum” di masyarakat.

Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), selama periode 20 Oktober 2024 hingga 8 Maret 2025, sebanyak 1.352.401 konten negatif berhasil ditangani, berkat peran aktif masyarakat yang melaporkan melalui aduankonten.id.

Dari total konten yang ditangani, sebanyak 233.552 konten terkait dengan pornografi mayoritas berasal dari website sebanyak 219.578 kasus, dan platform X (Twitter) menempati urutan kedua dengan 10.173 kasus.

Salah satu penyedia jasa open BO yang owrite wawancara bernama Anita Asmara (bukan nama sebenarnya). Wanita berusia 31 tahun itu mengaku, sudah lima tahun terpaksa terjun ke “dunia gelap”. 

Saat menyandang status janda, dirinya bingung untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Di sisi lain, Anita juga harus memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya setelah berpisah dengan sang suami.

Karena memang saat itu bingung, tidak ada penghasilan sama sekali. Saya juga tidak mau begini. Habis bagaimana, anak saya dua masih pada sekolah dan butuh biaya. Sedih banget ya, ngasih makan anak saya pakai uang dengan cara yang tidak wajar,”

ujar Anita kepada owrite.

Ia melakukan praktik ini melalui salah satu aplikasi percakapan daring (online). Anita rajin mengundang banyak pria dalam aplikasi tersebut, kemudian mengirim pesan yang isinya berupa penawaran video syur maupun telepon video (video call) seks., dengan durasi dan tarif yang berbeda-beda.

Kalau video call seks 30 menit Rp40 ribu, 1 jam Rp60 ribu. Video pribadi mulai dari Rp40 ribu untuk tiga video,”

jelasnya.

Melayani Langsung

Selain menjual konten syur di dunia maya, Anita juga melayani para lelaki “hidung belang” di dunia nyata. Ia mengaku, sudah banyak pria yang menjadi “kliennya” dengan permintaan bermacam-macam. Mulai dari praktik seks yang tidak wajar, hingga pelayanan dengan durasi panjang.

Pengalamannya banyak, pernah minta dipuasin selama durasi 3 jam, terus ada yang minta dari belakang,”

terangnya.

Namun kini, Anita sudah mengurangi intensitas melakukan praktik tersebut. Saat ini, ia memilih untuk menjalani hubungan serius dengan seorang pria, meskipun pasangannya itu sudah berkeluarga.

Saya pacaran dengan suami orang hehe.. Saya tetap dapat uang walapun saya nggak ngasih tarif. Dalam sebulan saya dikasih Rp2,5 juta,”

tandasnya.

Makelar “Jasa Kenikmatan”

Owrite juga berkesempatan menggali informasi dari salah satu pengguna jasa open BO, bernama Fahri (bukan nama sebenarnya). Pria berusia 34 tahun itu menceritakan pengalamannya, saat sedang berlibur di salah satu kota di Indonesia.

Fahri mengaku, melakukan open BO ini awalnya karena penasaran. Ia menyewa wanita tuna susila (WTS) yang menjual “jasa kenikmatan” dengan menawarkan tubuhnya. Fahri mengaku, dibantu oleh penjaga penginapan untuk bisa open BO.

Ternyata, penjaga penginapan itu sudah biasa menawarkan praktik tersebut kepada para tamu penginapan. Saat sedang mencari makan, Fahri ditawari oleh penjaga penginapan untuk “sewa perempuan”. Tawaran itu kemudian berlanjut dengan kesepakatan, dan penjaga penginapan itu menghubungi “admin”.

Jadi penjaga itu seperti penghubung. Dari situ admin ngasih foto-foto perempuan, dan dia juga punya nomor perempuan itu. Jadi, dia tunjukkan kepada saya foto-foto perempuan itu. Terus saya disuruh milih, mau perempuan yang mana,”

katanya.

Setelah memilih, sambung Fahri, proses negoisasi dilakukan oleh penjaga penginapan kepada wanita yang telah dipilih. Awalnya, wanita tersebut membuka tarif Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Setelah negosiasi, harga akhirnya disepakati tarif Rp500 ribu yang harus dibayar. 

Jadi Rp500 ribu yang saya bayar itu adalah hasil negosiasi antara si perempuan atau admin. Dan saya terima bersih,”

ucapnya.

Bahkan, kata Fahri, penjaga itu seolah memberi garansi, bila dia tidak suka dengan perempuan itu bisa di cancel tanpa bayar apapun dan bisa pilih yang lain. 

Artinya pola itu sudah terjadi dalam lingkaran open BO di kota itu,”

ujar Fahri.

Sekitar pukul 21.00, wanita itu datang dengan diantar oleh mobil. Ia pun dikabari penjaga penginapan, bahwa wanita yang akan menemaninya sudah datang dan segera menyambutnya.

Setelah memberi tip kepada penjaga penginapan sebesar Rp100 ribu, Fahri dan wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, dirinya kembali membuat kesepakatan dengan wanita itu untuk bersamanya selama 2 jam. 

Keduanya pun melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Di sela-sela kebersamaannya, mereka juga berbincang santai. Dalam obrolan itu, wanita tersebut menawarkan Fahri memakai jasanya untuk long shift atau perpanjangan waktu sewa selama 12 jam dengan biaya Rp6 juta. 

Dia merengek ke saya untuk long shift. Karena alasannya dia capek untuk ketemu pelanggan-pelanggan lain. Jadi dia mau long shift sama saya 12 jam, setelah selesai 12 jam (wanita) pulang,”

ucap Fahri.

Diungkapkan Fahri, jasa yang ditawarkan tidak hanya having sex saja, tapi juga bisa menemani makan malam, jajan, ngopi bareng dan lain sebagainya. Namun, saat itu Fahri menolak halus. 

“Saya bilang cukup 2 jam aja. Tapi kalau mau long shift, nanti kalau ada kedatangan saya berikutnya atau memang saya berubah pikiran bisa long shift,” ucapnya. 

Dan ternyata, wanita tersebut terikat perjanjian kontrak dengan penyedia jasa. Bekerja sebagai penyedia jasa pemuas nafsu dengan kontrak tiga bulan. Setelah kontrak itu selesai, bisa berhenti dari “dunia open BO” atau tidak memperpanjang kontraknya. Namun jika masih ingin lanjut, kontrak bisa dilanjutkan.

Dari jasa open BO yang ia gunakan, wanita yang dipesan selalu ditemani oleh sopir dan diantar bertemu klien dengan mobil khusus. Sopir tersebut juga menjadi penjaga, ketika ada klien yang tidak sopan atau melakukan kejahatan. 

Nantinya, penghasilan yang didapat oleh wanita tersebut dibagi dua oleh bos atau penyedia jasa. 

Jadi kalau misalnya sama saya 2 jam berarti kan Rp1 juta. Nah setengahnya itu masuk untuk bosnya. Jadi dia bersih cuma dapat Rp500 ribu. Tapi menurut dia (wanita penyedia jasa), sebaiknya kalau tip-tip kayak gitu ngasihnya tuh diam-diam aja. Jangan ditransfer ke bosnya,” 

ujar Fahri.

Pijat Bersertifikat

Di momen yang sama, Fahri juga sempat melakukan pijat plus plus. Awalnya, ia hanya ingin pijat badan karena lelah setelah perjalanan panjang menuju kota tersebut. 

Saya cari jasa pijat, karena memang butuh pijat badan. Harga pijatnya satu jam sekitar Rp200-250 ribu,”

ucap Fahri kepada owrite.

Fahri mengatakan pemesanan jasa pijat itu hanya bisa diakses melalui pesan singkat WhatsApp (WA). Dari WA itu, dia dihubungkan dengan adminnya. 

Si admin ini nanti akan tanya, penginapan kita dimana? Nama penginapannya apa? Kamar nomor berapa? Dan mau jam berapa,”

paparnya.

Fahri akhirnya membuat janji dengan terapis itu jam 16.00. Terapis yang datang ke penginapannya membawa sepeda motor. Setelah tiba di depan penginapan, terapis itu langsung mengabari Fahri untuk menjemputnya.

Selama proses pijat, Fahri banyak ngobrol dengan terapis itu. Bahkan, Fahri mengulik tentang pekerjaan terapis itu. Dan memang benar, terapis itu merupakan terapis profesional yang memiliki sertifikat pijat. 

Jadi dia ikut kursus pijat, yang nantinya tenaga dia itu untuk jadi terapis di kapal. Jadi dia akan berpergian ke luar negeri gitu, dia jadi terapis buat pengunjung di kapal. Jadi tidak (pijat) sembarangan,”

ucapnya.

Alasan Fahri bertanya detail tentang awal mula terapis itu menjual jasa pijat, karena cara pijatnya dirasakan cukup profesional.

Sebab gerakan dan cara dia pijat itu kok beda. Ternyata semua ini diajarin dalam kursus itu. Jadi harus profesional. Karena dia juga mengeluarkan duit buat kursus. Dan itu nggak mudah gitu kan. Saat itu, dia ngaku baru satu minggu jadi terapis,” 

tuturnya.

Di sela-sela perbincangan itu, Fahri menanyakan untuk pijat plus plus. Dengan tegas terapis itu mengatakan bisa.

Terus saya tanya, bisa gak kalau mau lebih. Lebih itu kayak misalnya, dia masturbasiin saya. Kata dia semua bisa dilakukan asal duitnya cocok,”

katanya.

Jadi ada nominal selain 250 ribu yang harus pelanggan keluarkan untuk dapet jasa plus-plusnya itu. Akhirnya, terapis mau untuk melakukan pijat plus plus. Fahri pun harus merogoh kocek Rp700 ribu.

Hal yang dia suka dari terapis itu, sambung Fahri, selesai pijat terapis tersebut mempersilahkan Fahri untuk memeriksa isi tasnya. 

Dia bilang, silahkan kalau bapak mau cek isi tas saya, kalau kalau takut dan khawatir saya ngambil barang macem-macem. Silahkan isi tas saya ini di cek sendiri. Terus waktu itu saya bilang, saya percaya kalau kakak tidak mengambil barang-barang saya, karena memang saat itu saya pisahkan dompet dan handphone di dekat kepala saya jadi masih dalam jangkauan,”

ucapnya.

Fahri mengaku, menggunakan jas plus plus dengan orang yang sama sebanyak tiga kali dalam sepekan. 

Antara Kebutuhan, Gaya Hidup dan Haus Validasi

Di sisi lain, Psikolog Meity Arianty mengatakan fenomena ini memang mengkhawatirkan, karena banyak dilakukan oleh remaja hingga orang dewasa yang masih dalam tahap pembentukan identitas dan nilai-nilai diri. 

Fenomena ini mencerminkan adanya kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dan pemenuhan kebutuhan emosional yang mendalam, seperti perhatian, penerimaan sosial, dan pengakuan dari orang lain. 

Seseorang yang terlibat dalam fenomena ini seringkali menghadapi tekanan sosial atau perasaan kekosongan yang mendorong orang tersebut mencari cara cepat untuk mendapatkan pengakuan, kekayaan, atau status,”

ucapnya.

Menurut Meity, ada banyak penyebab pelaku melakukan open BO. Alasannya pun bervariasi. Namun umumnya, berkaitan dengan pencarian pemenuhan kebutuhan emosional dan material. 

Beberapa mungkin merasa terdesak oleh faktor ekonomi atau tekanan finansial, yang kemudian memicu mereka mencari cara instan untuk mendapatkan uang,” 

jelasnya.

Selain itu, mereka merasa tidak mendapatkan pengakuan atau perhatian yang mereka inginkan dari lingkungan sosialnya, sehingga memilih cara yang cepat untuk mendapatkan validasi melalui media sosial. 

Rendahnya pemahaman tentang risiko jangka panjang dan dampak psikologis juga bisa menjadi faktor pendorong, di mana mereka belum sepenuhnya menyadari konsekuensi dari perilaku tersebut terhadap kehidupan pribadi dan mental mereka,”

ucapnya. 

Pengawasan Platform Digital Harus Diperketat

Lebih lanjut Meity mengatakan bahwa rantai open BO ini bisa diputus dengan adanya pendekatan yang holistik dan berkelanjutan.

Edukasi masyarakat, terutama remaja dan orang dewasa muda mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental, reputasi, dan hubungan sosial sangat penting. 

Selain itu, perlu diperkuat pengawasan dan regulasi oleh pihak berwenang terhadap platform digital agar lebih ketat dalam memblokir atau menghapus konten yang melanggar aturan,”

terangnya.

Pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesempatan kerja yang lebih baik, menurut Meity juga bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada cara-cara instan tersebut. 

Yang penting juga, dukungan psikologis dan konseling yang terbuka dan mudah diakses harus disediakan untuk membantu seseorang yang terjebak dalam fenomena ini, agar mereka dapat menemukan cara yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan emosional dan finansial mereka,”

pungkasnya.
Share This Article
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Exit mobile version