MBG Tetap Jalan Saat Libur Sekolah, Cara BGN Habiskan Anggaran?

Petugas menyiapkan menu makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) (ANTARA FOTO/Novrian Arbi/bar)

Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama masa libur sekolah. Mereka yang mendapat MBG diantaranya anak sekolah dan kelompok 3B yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang mengatakan, pemberian MBG di masa libur sekolah bukan untuk menghabiskan anggaran yang sudah dialokasikan oleh pemerintah sebesar Rp71 triliun pada 2025, dan tambahan anggaran Rp100 triliun. Tetap berjalannya program ini jelas Nanik, untuk memenuhi gizi anak sekolah. 

Anak-anak tetap harus dapat makanan bergizi, kan BGN tugasnya ngasih makanan bergizi. Bukan karena ngabisin anggaran, anggaran kita sudah habis lama dan sekarang malah pakai ABT (anggaran biaya tambahan),”

ujar Nanik saat dihubungi owrite Senin, 22 Desember 2025.

Nanik mengatakan, program MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap berjalan sebagaimana mestinya. Sedangkan untuk anak sekolah akan bergantung pada kesepakatan dengan pihak sekolah.

Untuk anak-anak sekolah tergantung kesepakatan dengan pihak sekolah, kalau muridnya mau ambil di sekolah ya kita kasih kalau tidak mau ya tidak kita kasih. Jadi tidak dipaksa ya, yang di sekolah,”

jelasnya.

Cara Penyaluran MBG

Nanik menjelaskan, mekanisme penyaluran MBG yakni dengan murud-murid sekolah mengambil makanan ke sekolah, namun tidak setiap hari. 

Mekanismenya bisa dua atau tiga hari diantar ke sekolah. Nanti murid-murid yang mau ambil didaftar. Ambilnya di sekolah,”

jelasnya.

Ia menuturkan, menu MBG yang diberikan berupa bahan kering atau bukan olahan. Hal itu diantaranya buah, susu, roti buatan UMKM, dan telur asin.

MBG menjadi bahan kering (bukan olahan), misalnya buah, susu, roti (buatan UMKM), dan telur. Telurnya biar awet pakai telor asin,”

katanya.

Petugas MBG Tetap Masuk

Nanik mengatakan, dengan tetap berjalannya Program MBG ini, maka petugas MBG tetap masuk kerja. Sebab petugas tetap harus melakukan bersih-bersih hingga perbaikan.

Ya tetap bekerja untuk bersih-bersih dan perbaikan,”

terangnya.

Gizi Buruk Kerap Naik di Masa Libur

Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayat dalam keterangan resminya menjelaskan tetap berlanjutnya program MBG di masa libur sekolah karena dinilai risiko gizi buruk kerap meningkat pada masa liburan akibat pola makan yang tidak terpantau.

Kita ingin memastikan bahwa gizi anak-anak Indonesia tidak terputus hanya karena libur sekolah. Selama masa liburan, BGN tetap mendistribusikan paket MBG baik kepada siswa maupun kelompok rentan 3B. Ini adalah komitmen kami untuk menjaga keberlanjutan pemenuhan gizi yang berkelanjutan,”

ujarnya.

Hida menjelaskan, pada masa libur sekolah, BGN menerapkan sistem paket kombinasi yang terdiri dari satu menu siap santap yang dimasak langsung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan dua paket MBG kemasan untuk dibawa pulang, berisi roti, telur, susu, dan buah yang memenuhi kaidah gizi seimbang sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG). 

Hida berharap, kebijakan ini diharapkan tidak hanya menjaga ketahanan gizi anak selama libur, tetapi juga memberi kepastian bagi keluarga penerima manfaat.

Program MBG selama libur sekolah adalah bentuk kepedulian negara. Kami ingin memastikan keluarga tetap merasa tenang karena anak-anak dan kelompok rentan tetap mendapatkan makanan bergizi yang aman dan berkualitas,”

tuturnya.

Realisasi MBG Baru Rp52,9 Triliun

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, realisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 15 Desember 2025 mencapai Rp52,9 triliun atau 74,6 persen dari pagu anggaran Rp71 triliun.

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan jumlah penerima MBG sebanyak 50,7 juta dari 82,9 juta penerima manfaat, yang terdiri dari pelajar dan ibu hamil.

MBG sampai dengan 15 Desember sudah 52,9 triliun, atau 74,6 persen dari anggaran di APBN sebesar 71 triliun. Saat ini penerimanya sudah 50,7 juta penerima dari 82,9 juta target,”

ujar Suahasil dalam konferensi pers di Kantor Kemenkeu, Kamis, 18 Desember 2025.
Share This Article
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media yang meliput pemberitaan Ekonomi dan Bisnis.
Redaktur
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Exit mobile version