Perang Perbatasan Thailand–Kamboja Memanas 52 Orang Tewas

Prasat Ta Muen Thom salah satu penyebab konflik Thailand dan Kammboja (Foto: Instagram tourism2cambodia)

Ketegangan di kawasan perbatasan Thailand dan Kamboja kembali meningkat. Hingga Kamis 18 Desember 2025, konflik bersenjata yang pecah sejak 7 Desember lalu telah merenggut sedikitnya 52 nyawa dari kedua belah pihak.

Situasi di lapangan dilaporkan semakin kompleks, dengan penggunaan persenjataan berat serta serangan udara tanpa awak.

Kementerian Pertahanan Kamboja menyebut bahwa pasukan Thailand melancarkan tembakan artileri serta serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) ke wilayah perbatasan.

Sebagai respons, militer Kamboja dilaporkan membalas dengan meluncurkan roket BM-21 ke sejumlah titik yang diduga menjadi posisi pasukan Thailand. Informasi ini disampaikan media setempat, Khmer Times.

Sementara itu, media publik Thai PBS melaporkan bahwa tentara Thailand berhasil merebut kawasan Chong Anh Ma usai pertempuran sengit.

Penguasaan wilayah ini disebut sebagai salah satu faktor meningkatnya eskalasi konflik. Klaim tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari pihak Kamboja.

Syarat Gencatan Senjata dari Thailand

Pemerintah Thailand menegaskan bahwa Kamboja harus lebih dulu menyatakan gencatan senjata jika ingin menghentikan konflik yang telah memaksa lebih dari 700 ribu warga di kedua negara mengungsi dari rumah mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, menyatakan bahwa setiap upaya penghentian perang harus memiliki jaminan dan dapat dipercaya.

Ia juga menuntut kerja sama tulus dari Kamboja dalam pembersihan ranjau darat di wilayah perbatasan sebagai bagian dari syarat perdamaian.

Hingga saat ini, Thailand melaporkan 35 korban jiwa, terdiri dari 19 personel militer dan 16 warga sipil. Di sisi lain, Kamboja mengonfirmasi 17 orang tewas dan 77 lainnya mengalami luka-luka akibat konflik ini.

Kesepakatan Damai Belum Terlaksana

Bentrokan terus berlangsung meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pemimpin kedua negara telah sepakat untuk menghentikan pertempuran.

Pada Oktober lalu, Thailand dan Kamboja bahkan sempat menandatangani kesepakatan damai di Kuala Lumpur, disaksikan oleh Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Namun, perjanjian itu akhirnya dibekukan setelah insiden ranjau darat yang melukai parah tentara Thailand.

Thailand juga mengungkapkan bahwa sekitar 18 tentara Kamboja masih ditahan terkait sejumlah insiden dalam lima bulan terakhir.

Konflik ini menambah daftar panjang sengketa perbatasan Thailand–Kamboja yang telah berlangsung bertahun-tahun dan kerap berujung kekerasan. Pada Juli lalu, bentrokan serupa bahkan menewaskan sedikitnya 48 orang.

Share This Article
Ikuti
Jurnalis OWRITE yang meliput pemberitaan seputar dunia Olahraga mulai dari Sepak Bola, hingga Bulu Tangkis.
Redaktur
Ikuti
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.
Exit mobile version