Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela bukan operasi dadakan. Rekaman video yang beredar di media sosial dan dianalisis media pertahanan AS, War Zone, mengungkap jejak operasi udara presisi tinggi di atas ibu kota Caracas.
Dalam video tersebut terlihat helikopter MH-47 Chinook milik Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 atau unit elite yang kerap terlibat misi berisiko tinggi melintas di langit Caracas, disusul dentuman ledakan di sejumlah titik. Beberapa analis menduga helikopter MH-60 Black Hawk juga terlibat dalam operasi ini.
Aksi tersebut menandai puncak dari peningkatan kekuatan militer AS selama berbulan-bulan di kawasan Karibia. Kapal induk USS Gerald R. Ford beserta armada kapal perang pengawalnya telah lama bersiaga di wilayah tersebut, sebagaimana dilaporkan CBS News.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington juga menyita dua kapal tanker minyak Venezuela, menghancurkan lebih dari 30 kapal yang dituding membawa narkoba, serta menyerang area pelabuhan yang disebut Presiden Donald Trump sebagai titik pemuatan narkotika. Semua langkah itu membentuk satu pola: tekanan militer bertahap sebelum pukulan utama dilancarkan.
Perang Udara dan Sabotase Elektronik
Pakar militer China, Wang Yunfei, menilai keberhasilan relatif operasi AS tak lepas dari serangan udara pendahuluan dan kemungkinan penggunaan perang elektronik. Menurutnya, sistem pertahanan udara dan angkatan udara Venezuela kemungkinan telah dilumpuhkan atau diganggu sebelum pasukan khusus AS diterjunkan.
Ini memungkinkan helikopter AS yang membawa unit Delta Force menembus wilayah vital dan melakukan operasi langsung di kediaman Maduro,”
kata Yunfei dikutip dari Global Times, Minggu 4 Januari 2026.
Delta Force dikenal sebagai unit dengan pengalaman panjang dalam operasi penangkapan tokoh bernilai tinggi di berbagai medan konflik. Dengan dukungan intelijen akurat, kemampuan pertahanan Venezuela dinilai sangat rentan menghadapi operasi semacam ini.
Faktor Intelijen: Kunci Operasi Senyap
Pandangan serupa disampaikan analis militer China lainnya, Zhang Junshe. Ia menyoroti peran intelijen AS yang diduga krusial dalam operasi tersebut. Zhang menyebut badan intelijen seperti CIA memiliki rekam jejak panjang dalam mengumpulkan informasi lapangan, termasuk melalui penyusupan dan dugaan suap terhadap pejabat atau komandan militer.
Dari sudut pandang militer global, Zhang menilai operasi ini akan dipelajari sebagai case study oleh angkatan bersenjata negara lain.
AS berulang kali melakukan operasi untuk menggulingkan rezim. Ini bukan sekadar manuver taktis, tetapi membawa implikasi politik dan strategis yang sangat dalam,”
ujarnya.
Namun ia menegaskan, secara hukum internasional, operasi tersebut tetap merupakan invasi terhadap negara berdaulat.
Pelanggaran Serius Hukum Internasional
Pemerintah China bereaksi keras atas serangan AS ke Venezuela. Beijing menyebut penggunaan kekuatan secara terang-terangan terhadap negara berdaulat dan penahanan presidennya sebagai tindakan hegemonik yang melanggar hukum internasional.
Tindakan ini secara serius melanggar kedaulatan Venezuela dan mengancam perdamaian serta keamanan kawasan Amerika Latin dan Karibia,”
kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China.
China mendesak Washington mematuhi hukum internasional serta prinsip Piagam PBB, dan menghentikan praktik intervensi terhadap negara lain.
Kami dengan tegas menentang tindakan tersebut,”
tegasnya.
