Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan daerah perairan DKI Jakarta tercemar limbah obat-obatan. Di Teluk Jakarta terkontaminasi material acetaminophen atau parasetamol, sedangkan di Sungai Angke ditemukan kandungan metformin yang merupakan obat diabetes.
Ahli Kesehatan Lingkungan dan Epidemiolog dari Universiras Griffith dr Dicky Budiman mengatakan, dari temuan tersebut menandakan bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi isu yang semakin kompleks dalam pengelolaan kualitas air dan limbah perkotaan.
Khususnya terkait dengan kontaminan yang muncul atau emerging contaminant yaitu zat aktif farmasi yang tidak secara rutin dipantau dalam sistem kualitas air konvensional,”
ujar dr Dicky kepada owrite, Senin 24 November 2025.
Dokter Dicky menyoroti fakta terkait zat metformin yang terdeteksi di tiga titik sepanjang Sungai Angke dengan konsentrasi antara 27 hingga 414 nanogram. Dan obat tersebut dikenal memiliki karakteristik yang mempersulit degradasinya secara alami, dan penghilangan melalui pengelolaan air limbah standar.
Karena dalam tubuh manusia hampir tidak dimetabolisme dan banyak dikeluarkan dalam bentuk utuh. Ini yang membuatnya sangat relevan sebagai indikator bagi aliran polutan farmasi,”
ucapnya.
Lantas bagaimana obat diabetes metformin bisa masuk ke air perkotaan?
Dokter Dicky menjelaskan, metformin merupakan obat diabetes tipe 2 yang banyak diresepkan karena karakteristiknya dan tubuh manusia sebagian besar tidak dimetabolisme secara signifikan. Selain itu juga sebagian besar dikeluarkan dalam urin, sehingga dalam bentuk aktif atau bentuk yang sangat mirip.
Kemudian bentuk buangan domestik jadi limbah domestik urin dan kadang kala feces ini mengandung metformin, masuk ke sistem pembuangan rumah tangga ke pembuangan limbah domestik,”
kata dr Dicky.
Lebih lanjut dr Dicky mengatakan, jika limbah domestik ini kemudian masuk ke sistem pengolahan air limbah atau wastewater treatment plant atau bahkan langsung ke sungai tanpa pengolahan memadai, maka zat tersebut akan terbawa ke badan air.
Artinya pengolahan air limbah itu sering gagal mengeliminasi metformin secara lengkap. Jadi laju penghapusan, removal rate-nya itu dari metformin dalam beberapa sistem pengolahan air limbah itu sangat bervariasi dari mulai 22% sampai 99% di berbagai negara,”
tuturnya.
Selain dari sistem pembuangan, residu obat juga bisa terbawa melalui limpasan air hujan bila infrastruktur air limbah atau saluran pembuangannya buruk. Atau bisa juga melalui sistem drainasi yang menghubungkan ke sungai.
Tak hanya itu, industri farmasi atau fasilitas kesehatan juga memiliki dampak besar atas pencemaran tersebut. Meskipun metformin mekanisme utamanya adalah konsumsi dan ekskresi dalam prinsip umum, polusi farmasi juga bisa berasal dari pabrik obat, rumah sakit, klinik, atau fasilitas pembuangan obat kadaluarsa.
Walaupun untuk kasus metformin utamanya itu adalah ekskresi manusia, bahkan salah satu literatur atau banyak beberapa ya menyebut kurang lebih sampai 90% farmasi masuk ke air itu melalui ekskresi manusia atau ternak,”
paparnya.
Menurut dr Dicky, obat seperti metformin yang sangat larut dalam air dan tidak mudah menguap, jalur utama masuk adalah melalui air atau buangan limbah, bukan melalui udara.
Jadi secara ringkas konsumsi manusia ekskresi sistem pembuangan, limbah domestik, atau industri, pengolahan limbah dan pelepasan ke badan air itu terakumulasi,”
tandasnya.
