Anggapan bahwa rokok cerutu lebih aman dibanding rokok biasa masih banyak dipercaya sebagian masyarakat. Padahal, klaim tersebut tidak lebih dari sekadar hoaks yang menyesatkan.
Berbagai penelitian medis menunjukkan bahwa cerutu tetap mengandung nikotin dan zat karsinogen berbahaya yang berisiko memicu kanker, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan, meskipun asapnya sering tidak dihirup sedalam rokok filter.
Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) menjelaskan dalam satu batang cerutu besar, tersimpan 5 hingga 20 gram tembakau. Sebuah angka yang signifikan.
Untuk memberi gambaran, jumlah ini setara dengan seluruh tembakau dalam satu bungkus rokok. Proses menghisapnya pun lama, biasanya 1 hingga 2 jam. Ini berarti paparan berlangsung dalam durasi yang panjang dan terus-menerus,”
ujar Prof Erlina seperti dikutip dari akun X @erlinaburhan, Selasa 3 Februari 2026.
Lebih lanjut Prof Erlina menjelaskan secara kimiawi, asap cerutu mengandung senyawa karsinogenik dan toksik yang identik dengan asap rokok.
Kandungan inilah yang menjadi pemicu utama kanker paru dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Tegasnya.Klaim bahwa cerutu lebih aman karena “tidak dihisap masuk ke paru” adalah mitos,”
tegasnya.
Racun tidak hanya masuk melalui hisapan. Orang di sekitar Anda, termasuk keluarga, terpapar asap ini secara langsung.
Bahkan bagi penghisapnya sendiri, senyawa berbahaya dapat masuk melalui selaput lendir hidung dan mulut.
Jadi, cerutu, dengan segala citra glamornya tetaplah produk tembakau. Asapnya membawa racun yang sama. Risikonya pun tak berbeda,”
tandasnya.
