Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut, pemerintah mempersiapkan penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) berbasis kelapa sawit.
Airlangga mengatakan, dalam rangka hilirisasi Indonesia tengah gencar mengubah minyak sawit menjadi energi bersih, yakni melalui program mandatori biodiesel. Pada 2024, Indonesia menerapkan Program B40 dan telah berhasil mengurangi impor bahan bakar fosil lebih dari 15,6 juta kiloliter, serta mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 41,46 juta ton setara CO2.
Saat ini, kami juga sedang mempersiapkan tahap selanjutnya, yaitu penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) berbasis kelapa sawit. Salah satu contoh yang baik adalah kerja sama antara PT Pindad dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam Pengembangan Fasilitas Produksi Industri Pertahanan. Inisiatif ini akan memanfaatkan sumber daya lokal, termasuk material berbasis minyak sawit,”
Airlangga dalam keterangannya Kamis (13/11/2025).
Untuk memastikan daya saing dan keberlanjutan, Airlangga mengatakan bahwa Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025.
Aturan ini untuk memperkuat sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO) yang memastikan produk minyak sawit Indonesia sudah sesuai standar lingkungan dan global.
Kami juga sedang mempersiapkan Sistem Informasi ISPO, yang menghubungkan data perkebunan, sertifikasi, dan perdagangan. Sistem ini juga meningkatkan transparansi dan memungkinkan pelacakan produk secara real-time,”
Airlangga.
Airlangga melanjutkan, kontribusi minyak sawit terhadap surplusnya nilai neraca perdagangan Indonesia mencapai US$4,34 miliar per September 2025.
Adapun dari Januari hingga September 2025, volume ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 28,66 juta ton, atau naik 11,26 persen dibandingkan tahun lalu.
Sedangkan harga rata-rata minyak sawit mentah dan tandan buah segar tetap di atas Rp3 ribu per kilogram.
Minyak sawit akan terus memainkan peran kunci sebagai sumber pendapatan, energi, inovasi, dan kekuatan nasional. Kita tidak boleh berhenti pada ekspor bahan mentah. Melalui strategi hilirisasi, kita ingin meningkatkan nilai tambah, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan memperkuat industri kita,”
Airlangga.
