Siulan hingga Rabaan: Pelecehan Seksual yang Dianggap Sepele Ternyata Bikin Trauma

Ketua Perempuan Mahardika, Mutiara Ika Pratiwi (Foto: owrite)

Ketua Perempuan Mahardika, Mutiara Ika Pratiwi melihat kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan bisa terjadi pada siapa saja. Bukan hanya selebritas tapi juga para pekerja lainnya, termasuk buruh.

Kenapa sih ini bisa terjadi sama siapa saja? Kita perlu melihat pada konteks relasi kuasa. Jadi saya pikir ada sebuah kesamaan ketika kita melihat dunia buruh dan dunia selebritas, karena sama-sama ada relasi kuasa,”

jelas Ika.

Ika menjelaskan yang pertama adalah relasi kuasa berbasis gender, artinya relasi antara peran gender perempuan dan juga peran gender laki-laki.

Dimana dalam masyarakat kita peran gender perempuan lebih timpang, sehingga lebih rentan mendapatkan kekerasan termasuk kekerasan seksual,”

ucapnya.

Sedangkan kalau dalam dunia kerja seperti buruh, relasi kuasanya berbasis hierarki atau jabatan.

Karena ada relasi kuasa yang timpang yang ini bisa berpotensi memunculkan kerentanan pada mereka perempuan,”

sambungnya.

Hasil kajian dari Perempuan Mahadika, pelecehan seksual yang terjadi di dunia buruh garmen berada di level operator dengan pelecehan seksual yang sangat besar.

Satu dari dua orang yang kami kaji itu pernah menjadi korban pelecehan seksual,”

katanya.

Dari hasil kajian tersebut juga ditemukan bentuk pelecehan seksual sendiri ada banyak, seperti ditowel, diraba, bahkan ada yang digendong paksa dan dijadikan seperti mainan.

Yang paling marak itu adalah siulan, kemudian juga diraba, towel, tapi meningkat intensitasnya, jadi tidak ada pelecehan yang skalanya, ini lebih ringan, ini enggak, satu kali tindakan pelecehan, ketika itu dibiarkan, itu akan meningkat intensitasnya, dari yang tidak non-body contact, menjadi bisa non-body contact, atau juga sebaliknya, dari yang dilihat rabaan, tapi ketika itu dilakukan terus, menurut saya itu mengganggu mental,”

terangnya.

Ika mengatakan tingginya kasus pelecehan di dunia kerja karena korban tidak mau melapor, sehingga kejadian tersebut terus berulang.

Kenapa mereka tidak melaporkan? Karena rasa takut, rasa malu, karena masih menganggap itu sebagai sebuah aib, kemudian juga takut kehilangan pekerjaan,”

jelasnya.

Menurutnya hal yang penting dilakukan adalah semua pihak harus bersinergi dan bekerja sama, baik dari korbannya itu sendiri, pemerintah, dan juga dari pengusahanya.

Karena memberantas pelecehan seksual itu tidak bisa dilakukan oleh satu orang atau satu pihak, jadi semuanya harus bersinergi. Mau dari diri perempuannya itu sendiri, sama dari pemerintah tentu saja yang punya kewenangan besar, sumber daya yang besar,”

ucapnya.

Selain itu, perlu juga ada tindakan sosialisasi edukasi tentang apa itu pelecehan. Kegiatan itu harus masif dilakukan dengan skala yang besar.

Kemudian layanan, ketika ada korban harus dipermudah yang sudah diatur dalam Undang-Undang TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual).

Semangat One Stop Service Center, jadi bukan korban yang kemana-mana, tapi layanan yang mendatangi korban. Jadi itu harus dipermudah pelaporannya, kemudian perspektif petugas yang menerima laporan,”

pungkasnya.
Share This Article
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Redaktur
Ikuti
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.
Exit mobile version