Pengamat sepak bola yang juga Ketua LSM Save Our Soccer, Akmal Marhali melihat Indonesia terlalu berambisi untuk bisa masuk ke Piala Dunia 2026. Padahal masih banyak hal yang perlu dibenahi.
Kalau kita mau mimpi ke Piala Dunia, saya pikir ini terlalu berlebihan. Bukan berarti kita tidak punya peluang, punya, tapi peluang kita itu sangat kecil,”
ujar Akmal saat ditemui di Kantor owrite.id, Rabu, 19 November 2025.
Menurutnya, untuk bisa masuk Piala Dunia harus ada tahapan yang perlu dijalani. Hal pertama adalah dengan memberikan pembinaan dan membangun mental para pemain.
Kompetisi kita masih ada faktor-faktor non teknis yang mempengaruhi banyak judinya juga. Selama ekosistem sepak bola kita tidak sehat, maka jangan pernah berpikir kita akan punya tim nasional yang kuat. Nah itu yang harus menjadi PR buat PSSI,”
ucap Akmal.
Untuk saat ini, lanjut Akmal, Indonesia harus melalui beberapa tahap, seperti juara Piala AFF, semifinal Piala Asia, kemudian baru bisa bermimpi masuk Piala Dunia.
Kalau kemudian kemarin masuk kualifikasi Piala Dunia, itu kejutan menurut saya. Lawan yang kita kalahkan adalah Filipina masih sebatas Asia. Baru dibawah keempat kita lawan tim-tim yang punya tradisi main di Piala Dunia. Artinya secara mental kita menggunakan mental untuk tampil di Piala Asia,”
tambah Akmal.
Jadi menurut saya kalau kita ingin naik anak tangga untuk sampai ke puncak, maka jalannya harus bertahap. Tidak usah kemudian melompat, tapi kemudian kita dibawa ke mimpi yang pada akhirnya gagal juga,”
ujar Akmal.
Ia meyakini bahwa Timnas Indonesia belum memiliki tradisi Piala Dunia. Ia berpesan kepada PSSI untuk tidak mengajak para pesepak bola untuk bermimpi terlalu tinggi.
Karena orang yang terlalu banyak mimpi itu orang yang tidak bekerja. Tidur terus kan? Jadi kalau mau gantung ke cita-citanya yang tinggi, bukan mimpinya. Kalau cita-cita kan ada target yang ingin dituju,”
Akmal.
Target Realistis 2038
Akmal menyebut Indonesia belum layak masuk Piala Dunia. Ia mengakui saat ini Indonesia berada di peringkat 122 di FIFA.
Kalau kita mau mimpi ke Piala Dunia, saya pikir ini terlalu berlebihan. Bukan berarti kita tidak punya peluang, punya, tapi peluang kita itu sangat kecil. Kita lolos round empat Piala Dunia 2026 aja sudah prestasi tertinggi sepanjang sejarah PSSI berdiri. Jadi kita butuh proses untuk menuju Piala Dunia sesungguhnya,”
ucap Akmal.
Ia menambahkan, berkaca pada Negara Jepang yang menargetkan juara Piala Dunia pada 2050, artinya kalau sekarang 2025, berarti Jepang butuh waktu 25 tahun untuk bisa jadi juara dunia.
Ada proses di situ. Jadi menurut saya kita ini tidak bisa melompat dalam membangun sepak bola kita. Kita di level Piala AFF juga enggak pernah juara, di Piala Asia kita cuma jadi penggembira. Kok ujuk-ujuk kita pengen lolos Piala Dunia? Itu mimpi yang terlalu tinggi. Segala sesuatu itu kan harus ada yang bertahap,”
kata Akmal menambahkan.
Dirinya memprediksi, Indonesia akan lolos Piala Dunia tahun 3038 sesuai dengan roadmap PSSI 2045.
Kalau Piala Dunia kalau saya realistis, kalau sekarang babak 4, besok 2030 baru babak 5 kualifikasi. 2038 saya pikir waktu yang realistis untuk kita lolos Piala Dunia seperti roadmap PSSI 2045. Jadi dalam waktu kalau sekarang 2025 menuju 2038 artinya butuh waktu 13 tahun untuk membangun itu semua. Harus diingat, Spanyol butuh waktu 16 tahun untuk kembali jadi juara dunia. Jerman juga. Jadi ngak ada sesuatu yang didapat dengan instan,”
kata Akmal.
Lebih lanjut Akmal mengatakan selain mental, pemain Timnas Indonesia juga belum kuat pada pondasi sepak bola. Bahkan pembinaan usia mudanya masih berantakan.
Kompetisi kita masih ada faktor-faktor non teknis yang mempengaruhi banyak judinya juga. Selama ekosistem sepak bola kita tidak sehat, maka jangan pernah berpikir kita akan punya tim nasional yang kuat. Nah itu yang harus menjadi PR buat PSSI,”
ungkapnya.
Akmal juga mengkritik pihak PSSI yang ingin pemain Timnas Indonesia untuk menang. Bahkan mengambil keputusan memanggil pemain-pemain Diaspora secara cepat yang pada akhirnya tidak akan menghasilkan apa-apa juga.
Karena kalau kita mau panen, maka kita harus menanam benih yang berkualitas. Dan itu harus dilakukan di pembinaan usia muda. Kan sekarang ini udah mulai ada beberapa kabinet nih nama-nama pelatih tim nasional Indonesia muncul,”
tandasnya.
