Beberapa wilayah di Indonesia melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mitigasi banjir di wilayah Jakarta, Bogor Tangerang Bekasi (Jabodetabek).
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hal tersebut merupakan langkah yang tepat.
Kami sepakat bahwa kemampuan lingkungan dalam merespon air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir,”
ujar Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto kepada owrite, Rabu 28 Januari 2026.
Lebih lanjut Handoko menjelaskan sejak tahun 1930-1940 sudah ada 1000 situ, sedangkan saat ini hanya tersisa 200-an saja. Oleh karena itu pihaknya juga sepakat terhadap upaya penataan lingkungan.
Meski demikian, Handoko mengatakan OMC saja tidak cukup. Secara bersamaan perlu adanya paralel untuk mengurangi curah hujan agar masih bisa diterima oleh lingkungan.
Ke depan, penataan lingkungan harus terus dilakukan dan penguatan kapasitas modifikasi cuaca juga harus ditingkatkan. Karena tantangan perubahan iklim bukanlah isapan jempol. Potensi terjadinya hujan ekstrem juga akan terus meningkat?,”
jelasnya.
Beberapa orang menganggap bahwa OMC menyebabkan cold pool atau hujan lebat. Apakah benar?
Handoko menjelaskan fenomena cold pool atau hujan lebat adalah fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami.
Cold pool terjadi ketika hujan turun dari awan badai dan sebagian airnya menguap di bawah awan.
Proses penguapan ini menyerap panas dari udara sekitarnya, sehingga udara tersebut menjadi lebih dingin dan lebih padat (berat). Udara dingin ini kemudian jatuh ke permukaan bumi dan menyebar ke permukaan.
Setiap kali terjadi hujan lebat atau disertai petir (tanpa campur tangan manusia pun), cold pool pasti terbentuk. Jadi, mengaitkan cold pool hanya sebagai hasil modifikasi cuaca adalah keliru secara sains,”
tuturnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan OMC dilakukan dengan teknik penyemaian awan atau cloud seeding dan tidak menciptakan sistem cuaca dari nol. OMC hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam.
Jika OMC berhasil mempercepat turunnya hujan, maka cold pool akan terbentuk sebagai konsekuensi logis dari hujan tersebut. Namun, cold pool ini tidak berbeda secara fisik maupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami,”
jelasnya
Handoko menegaskan bahwa dari skala energi pun, tidak masuk akal OMC menyebabkan cold pool. Energi yang dibutuhkan untuk menciptakan massa udara dingin yang sangat besar, itu melampaui kemampuan teknologi manusia saat ini.
Manusia hanya “memicu” proses alami awan yang sudah jenuh, seperti yang dilakukan melalui modifikasi cuaca di Indonesia, bukan menciptakan sistem pendingin atmosfer raksasa,”
katanya.
Selain itu, Handoko juga menampik anggapan kalau OMC ini memindahkan hujan ke wilayah lain. Faktanya, dalam misi pengurangan curah hujan, target utama penyemaian adalah awan-awan yang bergerak dari arah laut.
Dengan menggunakan radar, tim OMC mendeteksi suplai awan yang menuju daratan. Awan ini disemai saat masih berada di atas perairan. Ini kami sebut dengan istilah Jumping Process Method,”
paparnya.
Untuk sistem awan yang tumbuh langsung di atas daratan, pendekatannya bukan memindahkan, melainkan “mengganggu” untuk meluruhkan pertumbuhan awan sehingga pun tetap terjadi hujan, maka intensitasnya berkurang.
Awan disemai saat masih dalam fase pertumbuhan (sebelum menjadi awan Cumulonimbus yang masif).
Implementasi OMC di Indonesia justru untuk mitigasi bencana. Tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah untuk merusak ekonomi atau membahayakan warga dengan menciptakan cuaca buruk secara sengaja,”
tambahnya,
Penyemaian dini dapat menghambat pertumbuhan awan hujan, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan, mengingat periode puncak hujan merupakan tempo alami dengan segala macam variabel atmosfer yang sangat mendukung pertumbuhan awan hujan secara terus-menerus. Ini kami sebut dengan Competition Method,”
terangnya.
Implementasi OMC di Indonesia justru untuk mitigasi bencana. Tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah untuk merusak ekonomi atau membahayakan warga dengan menciptakan cuaca buruk secara sengaja,”
tutup Handoko.
