Minimnya pasokan logistik ke sejumlah lokasi terdampak banjir dan longsor di Pulau Sumatera membuat situasi cukup menegangkan. Kondisi ini terjadi lantaran jalur distribusi bantuan terhambat. Sehingga, ada beberapa masyarakat yang akhirnya melakukan penjarahan di sejumlah minimarket dan gudang penyimpanan pangan.
Saya dengar ada penjarahan di Alfamart, Indomaret, bahkan di gudang Bulog,”
ucap salah satu warga yang keluarganya terdampak, Michael Siahaan, kepada owrite.id, Senin, 1 Desember 2025.
Ia juga menjelaskan, bahwa banyak pelaku usaha enggan membuka toko karena khawatir akan keamanan. Warga berharap aparat TNI dan Polri hadir untuk menjamin rasa aman.
Pemerintah harus menjaga titik-titik ekonomi yang vital. Makanan dan kebutuhan dasar sangat penting untuk keberlangsungan hidup warga,”
ujar Michael yang juga, jurnalis dari Antara.
Akses Rusak Parah, Masyarakat Temukan Jalur Baru
Selain listrik dan komunikasi, hambatan besar lainnya adalah akses darat. Jalur utama Sibolga–Tapanuli Tengah terputus akibat longsor, disertai kerusakan beberapa jembatan penghubung antarkabupaten.
Akses sangat susah karena jalan utama putus. Banyak jembatan juga rusak,”
jelas Michael.
Namun di tengah keterbatasan itu, muncul kabar baik. Warga setempat bergotong royong membuka jalur alternatif agar logistik dapat kembali mengalir.
Sekarang masyarakat sudah menemukan jalur darat baru. Dengan jalur itu, seharusnya distribusi bantuan bisa lebih cepat,”
katanya.
Menurutnya, situasi di Tapanuli Tengah masih jauh dari normal. Ia mengungkapkan, bahwa wilayah itu mengalami pemadaman listrik total.
Listrik di Tapanuli Tengah dan Sibolga masih padam. Hanya beberapa titik yang hidup, itu pun pakai genset,”
ujar Michael.
Akses komunikasi, sambungnya, juga masih sangat terganggu. Sinyal sering hilang dan tidak stabil sehingga komunikasi dengan keluarga menjadi sulit.
Sinyalnya hidup-mati. Kebanyakan warga sekarang mengandalkan Starlink, itu yang paling bisa dipakai,”
tambahnya.
