Plh. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menjelaskan gempa bumi yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Hingga jam 09:00 pagi terdapat 21 gempa susulan dengan magnitudo M2.0 – M4.0.
Subduksi lempeng adalah proses geologi di mana dua lempeng tektonik bertumbukan dan salah satu lempeng (biasanya kerak samudra yang lebih berat) menunjam ke bawah lempeng lainnya (kerak benua/samudra yang lebih ringan) ke dalam mantel bumi. Proses konvergen ini membentuk zona subduksi, palung laut, gunung api, serta memicu gempa bumi dan tsunami.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust),”
ujar Wijayanto kepada owrite, Jumat 6 Februari 2026.
Wijayanto menambahkan, gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di Pacitan, Bantul, Sleman, dengan skala intensitas IV-V MMI. Sedangkan Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, dan Banjarnegara dengan skala intensitas III MMI.
Tuban dan Jepara dengan skala intensitas II MMI, getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang,”
katanya.
Wijayanto menegaskan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,”
terangnya.
BMKG mengimbau, kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah,”
jelasnya.
Wijayanto menambahkan, hingga jam 09:00 pagi terdapat 21 gempa susulan dengan magnitudo M2.0 – M4.0. Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah,”
tandasnya.
Seperti diketahui, wilayah Pacitan, Jawa Timur diguncang gempa tektonik magnitudo M6,2 pada Jumat 6 Februari 2026 pukul 01.06 WIB dini hari. Hasil analisis BMKG episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,98° LS ; 111,18° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 89 Km arah Tenggara Kota Pacitan, Jawa Timur pada kedalaman 58 km.
Wijayanto menambahkan, gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di Pacitan, Bantul, Sleman, dengan skala intensitas IV-V MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah). Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, dan Banjarnegara dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah.
Terasa getaran seakan akan truk berlalu). Tuban dan Jepara dengan skala intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,”
jelasnya.
