Duh.. Banyak Gen Z Depresi karena Tekanan Sosial dan Politik Negara

Sumber foto: Freepik

Baru-baru ini ramai di media sosial terkait kabar Gen Z yang banyak mengalami depresi. Menariknya, depresi yang dialami Gen Z ini bukan karena masalah pribadi, melainkan urusan negara.

Psikolog Meity Arianty membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, kondisi kesehatan mental Gen Z saat ini dipengaruhi oleh tekanan sosial dan politik yang berkembang, bukan hanya masalah pribadi mereka. 

Secara teori, stres yang mereka alami seringkali berasal dari faktor eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, kekerasan di social media/cyber bullying dan ketidakstabilan politik, yang berpengaruh besar terhadap perasaan cemas dan pesimis mereka,”

ujar Meity kepada owrite, Kamis 18 Desember 2025.

Berdasarkan data riset, sambungnya, terdapat indikator bahwa proporsi besar Gen Z mengalami tekanan akibat faktor eksternal yang melampaui masalah pribadi semata.

Dampak Ketimpangan Sosial dan Ekonomi

Sebanyak 60 persen Gen Z merasa ketimpangan sosial dan ekonomi berdampak signifikan pada kehidupan mereka, yang menunjukkan hubungan antara tekanan struktural dengan kesejahteraan psikologis mereka. 

Data dari UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 52 persen merasakan perasaan kewalahan oleh berita dan peristiwa di komunitas, negara, dan dunia secara keseluruhan, juga mengindikasikan peran isu makro dalam beban psikologis mereka,”

tuturnya.

Selain itu, survey profesional menunjukkan bahwa Gen Z secara proaktif melibatkan diri dalam isu‑isu sosial dan politik. Sebanyak 70 persen responden dalam laporan tertentu aktif dalam gerakan sosial dan politik.

Hal itu mencerminkan bahwa masalah struktural menjadi bagian dari kerangka pengalaman mereka dan berkorelasi dengan tekanan mental yang dirasakan,”

ucapnya.

Meity menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir secara global dan juga di Indonesia, masalah mental pada Gen Z terjadi peningkatan. Studi literatur melaporkan tingginya prevalensi gejala kecemasan dan depresi di kelompok usia Gen Z di Indonesia, meskipun masih banyak kasus yang belum ditangani profesional. 

Jadi ini menunjukkan bahwa tren gangguan mental di kalangan Gen Z meningkat, dan bukan sekadar persepsi sesaat. Bahkan survei juga menunjukkan bahwa proporsi Gen Z yang melaporkan gejala kecemasan, depresi, dan stres tinggi secara konsisten lebih besar dibanding generasi tua pada usia yang sama, dan angka diagnosa kondisi kesehatan mental terus naik dari tahun ke tahun,”

paparnya.

Menurut Meity, data kenaikan angka depresi pada Gen Z ini karena mereka cenderung lebih terbuka untuk membicarakan masalah kesehatan mental mereka, namun banyak yang merasa terperangkap dalam ketegangan antara harapan pribadinya dengan realitas yang ada. 

Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan depresi, karena merasa tidak memiliki kendali atas kondisi sosial dan politik yang mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari,”

kata Meity

Data tersebut juga terlihat dari puskesmas dan rumah sakit yang sering menemui klien Gen Z yang melaporkan stres yang dipicu oleh kondisi sosial, politik, dan ekonomi Negara, meskipun sering kali masalah tersebut disampaikan dalam konteks pribadi. 

Meskipun mereka tidak selalu menyebutkan faktor-faktor ini secara eksplisit, Gen Z menunjukkan kecemasan terkait isu-isu makro ini yang semakin sering menjadi sumber stres. Hal ini menunjukkan bahwa faktor eksternal saat ini memainkan peran yang lebih besar dalam kesehatan mental generasi ini dibandingkan sebelumnya,”

tambahnya. 

Saring Informasi

Untuk itu, Meity menyarankan kepada Gen Z untuk ‘menyaring Informasi dan batasi paparan terhadap berita negatif yang berlebihan. Pastikan sumber yang seimbang dan memberikan perspektif positif serta solusi, bukan hanya fokus pada krisis. 

Latihan mindfulness dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan. Teknik ini mengajarkan untuk fokus pada saat ini dan menerima perasaan tanpa menghakimi, sehingga membantu meredakan stres,”

ucapnya.

Selain itu, fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti rutinitas harian, kebiasaan sehat, atau keterlibatan dalam komunitas dapat memberi rasa kendali yang mengurangi perasaan cemas. Jika stres menjadi berat, berbicara kepada psikolog dapat memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan dan mendapatkan dukungan profesional. Membina hubungan dengan teman, keluarga, atau kelompok komunitas dapat memberikan rasa aman dan dukungan emosional. 

Tak hanya itu, penting juga berbagi pengalaman dengan orang lain, karena seringkali dapat membantu melihat masalah dari perspektif yang lebih luas dan menemukan solusi bersama. Mengambil bagian dalam perubahan sosial, dapat memberikan rasa tujuan dan mengurangi perasaan pasif terhadap masalah yang ada. 

Terlibat dalam kegiatan yang memberi kontribusi positif sering kali memberikan rasa kontrol dan kepuasan. Berolahraga dan Istirahat, sebab akan memiliki efek positif terhadap kesehatan mental. Aktivitas ini membantu tubuh mengelola stres secara fisiologis dan meningkatkan mood,” tutupnya,”

tandasnya.
Share This Article
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Exit mobile version