Vape Dianggap Lebih Aman, Dokter Paru Sebut Risikonya Setara Rokok Konvensional

Ilustrasi menggunakan rokok vape (Foto: Freepik)

Penggunaan vape saat ini seakan menjadi gaya hidup masyarakat urban. Tak hanya orang dewasa, anak muda juga sudah banyak yang menggunakan vape.

Menurut data Global Adult Tobacco Survey, Rabu 7 Januari 2026, jumlah pengguna vape usia 15 tahun ke atas di Indonesia melonjak dari 0,3% (sekitar 480 ribu orang) pada tahun 2011 menjadi 3,0% (sekitar 6,6 juta) pada tahun 2021.

Alasan orang-orang memilih vape dibanding rokok, karena mereka menganggap vape lebih aman dari rokok. Padahal sama-sama berbahaya

Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) menjelaskan, vape itu tidak lebih aman dari rokok biasa atau konvensional, sama-sama berbahaya dan punya nikotin yang bersifat adiksi.

Bahkan World Health Organization (WHO) juga sudah melarang penggunaan vape sejak awal 2024 lalu.

Vape juga punya potensi yang sebabkan inflamasi paru, penyakit jantung, bronkitis kronis, dan rusaknya sel karena zat karsinogen yang cukup tinggi,”

ujar dr Erlina seperti dikutip dari Instagram @erlinaburhan, Rabu 7 Januari 2026.

Dokter Erlina pun menyinggung terkait popcorn lung atau bronkiolitis obliteratif, yang merupakan kondisi di mana bronkiolus mengalami kerusakan dan udara tidak bisa lewat.

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh New England Journal of Medicine Evidence, ada keterkaitan antara vaping serta fibrosis kecil yang berpusat dengan bronkiolitis konstriktif atau bronkiolitis obliteratif.

Empat pasien yang diteliti punya riwayat penggunaan vape dan sakit paru kronis selama 3-8 tahun. Penelitian juga menemukan ketika pasien berhenti vaping, kondisinya membaik sebagian selama 1-4 tahun. Tidak sepenuhnya membaik karena ada jaringan parut, tapi setidaknya menjadi lebih baik,”

jelasnya.

Bahkan ketika sudah berhenti pun ada kondisi yang tidak bisa mengembalikan kesehatan paru-paru seperti semula. Apalagi jika tidak berhenti,”

sambungnya.

Dokter Erlina menjelaskan ada penyakit lain yang disebabkan vape, seprti pneumonia, asma, PPOK, paru-paru kolaps.

Selain itu juga risiko kanker yang tidak lepas dari vape karena kandungan zat kimia formaldehid dan hidrokarbon.

Belum lagi zat kimia lainnya. Sensasi rasa mangga, mint, dan lainnya itu Anda dapatkan dari kandungan bahan kimia. WHO sudah menyoroti adanya pemasaran yang misleading dengan mengungkapkan bahwa vape lebih sehat padahal, lihat, kenyataannya ya berbahaya,”

tandasnya.

Share This Article
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Redaktur
Ikuti
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.
Exit mobile version