Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dijadwalkan melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat pukul 21.30 waktu setempat.
Agenda tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah memanasnya konflik Thailand–Kamboja.
Informasi ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, yang mengatakan bahwa Washington kemungkinan akan mendorong adanya gencatan senjata antara kedua negara.
Sihasak mengungkapkan bahwa meski AS dapat mendesak penghentian tembak-menembak, situasi di lapangan tergolong rumit dan tidak bisa diputuskan secara cepat.
Ia menegaskan bahwa sebelum menentukan langkah, PM Thailand harus berdiskusi terlebih dahulu dengan pihak militer.
Kami harus melakukan koordinasi internal. Ini bukan keputusan yang bisa diambil secara terburu-buru,”
Sihasak.
Thailand Akan Jelaskan Sikapnya ke AS
Dalam pembicaraan nanti, salah satu fokus utama Thailand adalah menyampaikan pandangan mereka terkait situasi perbatasan, terutama terhadap berbagai tuduhan yang dilayangkan oleh Kamboja.
Sihasak menekankan bahwa meski tekanan terus terjadi, Thailand tetap menginginkan hidup berdampingan secara damai. Namun ia juga menilai bahwa provokasi dari pihak Kamboja masih terus berlangsung.
Menteri Luar Negeri itu memastikan bahwa Bangkok bersedia mendengarkan setiap saran dari Washington. Meski begitu, keputusan akhir akan tetap berlandaskan pada kepentingan nasional Thailand.
Thailand tidak akan menerima keputusan apa pun yang dipaksakan dari pihak asing,”
Sihasak.
Dengan adanya komunikasi langsung antara PM Thailand dan Presiden AS, dunia kini menanti apakah langkah diplomasi ini dapat meredakan konflik yang terus memanas di kawasan Asia Tenggara tersebut.
