Iran Akhirnya Buka Pintu ke AS, Presiden Pezeshkian Perintahkan Pembicaraan Nuklir

Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: Wikipedia)

Pemerintah Iran akhirnya mengambil langkah signifikan dalam merespons tekanan internasional terutama dari Amerika Serikat terkait program nuklir dijalani oleh Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan telah menginstruksikan dimulainya pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berharap kesepakatan segera tercapai demi menghindari eskalasi militer.

Presiden Pezeshkian telah memerintahkan pembukaan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Iran dan AS akan mengadakan pembicaraan mengenai masalah nuklir,”

tulis kantor berita Fars.

Kerangka Negosiasi Sedang Disiapkan

Pemerintah Iran menyatakan bahwa saat ini tengah merumuskan metode serta kerangka kerja diplomasi yang diperkirakan rampung dalam waktu dekat.

Proses komunikasi awal antara Teheran dan Washington disebut masih berlangsung melalui perantara negara-negara kawasan.

Beberapa poin telah dibahas dan kami sedang meneliti serta menyelesaikan detail setiap tahapan dalam proses diplomatik, yang kami harapkan akan selesai dalam beberapa hari mendatang,”

kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei, dikutip dari AFP.

Presiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa waktu Iran untuk mencapai kesepakatan terkait nuklir semakin sempit.

Namun, Teheran menegaskan tidak pernah menerima ultimatum dari pihak mana pun.

Baqaei menegaskan bahwa Iran tidak mengakui adanya tekanan sepihak dari Amerika Serikat. Ia juga belum dapat memastikan apakah pesan resmi dari Washington telah diterima oleh pemerintah Iran.

Diplomasi Regional Menguat

Upaya meredakan ketegangan tidak hanya datang dari dua negara tersebut. Sejumlah aktor regional aktif mendorong jalur diplomasi guna mencegah konflik terbuka di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diketahui melakukan kunjungan ke Turki pekan lalu dan melanjutkan komunikasi dengan mitranya dari Mesir, Arab Saudi, dan Turki.

Presiden Trump mengatakan tidak ada senjata nuklir dan kami sepenuhnya setuju. Kami sepenuhnya setuju dengan itu. Itu bisa menjadi kesepakatan yang sangat baik,”

kata Araghchi.

Tentu saja, sebagai imbalannya, kami mengharapkan pencabutan sanksi. Jadi, kesepakatan itu mungkin terjadi. Janganlah kita membicarakan hal-hal yang mustahil,”

sambungnya.

Kekhawatiran Kawasan atas Potensi Konflik

Persatuan negara-negara di kawasan untuk mendorong dialog mencerminkan kekhawatiran mendalam bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dapat memicu konflik besar di Timur Tengah.

Kekhawatiran serupa sebelumnya juga disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Di sisi lain, Iran masih menghadapi tekanan internal akibat gelombang protes yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Pemimpin tertinggi Iran menyamakan aksi protes tersebut dengan upaya “kudeta” dan menuding adanya campur tangan Amerika Serikat serta Israel.

Pemerintah Iran mengakui adanya ribuan korban jiwa dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Pada Minggu 1 Februari 2026 kemarin, pihak kepresidenan Iran merilis data korban.

Disebutkan, sebanyak 2.986 nama dari total 3.117 korban tewas telah dipublikasikan. Pemerintah menegaskan bahwa sebagian besar korban merupakan aparat keamanan dan warga sipil yang tidak bersalah.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan penangkapan empat warga negara asing di Teheran yang diduga terlibat dalam kerusuhan, tanpa mengungkap kewarganegaraan mereka.

Penangkapan masih terus berlangsung hingga kini. Sementara itu, kelompok hak asasi manusia memperkirakan sedikitnya 40.000 orang telah ditahan terkait aksi protes tersebut.

Share This Article
Ikuti
Jurnalis OWRITE yang meliput pemberitaan seputar dunia Olahraga mulai dari Sepak Bola, hingga Bulu Tangkis.
Redaktur
Ikuti
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.
Exit mobile version