Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memburuk. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan adanya puluhan korban tewas dan luka-luka dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Insiden tersebut terjadi saat pasien beserta para pendamping mereka melintasi perlintasan Rafah, menurut laporan Badan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis 5 Februari 2026.
Kondisi ini memperlihatkan tingginya risiko yang masih dihadapi warga sipil, bahkan ketika mereka berupaya mendapatkan akses perawatan medis di luar Gaza.
Warga Kembali dari Rafah
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengonfirmasi bahwa tim mereka di lapangan kembali menerima warga yang melintasi Rafah pada malam hari.
Tadi malam, tim di lapangan menerima tambahan 25 orang yang kembali melalui perlintasan Rafah. Seperti pada malam-malam sebelumnya, Program Pembangunan PBB (UNDP) menyediakan transportasi ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis,”
kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Setibanya di Rumah Sakit Nasser, para warga tersebut langsung mendapatkan pendampingan intensif dari berbagai pihak.
OCHA menjelaskan bahwa bersama mitra-mitranya, mereka telah menyiapkan sistem penerimaan terpadu bagi warga yang kembali dari Mesir.
Layanan tersebut mencakup dukungan medis, psikologis, hingga perlindungan bagi kelompok rentan.
OCHA bersama mitra-mitranya di Rumah Sakit Nasser menyambut warga yang kembali dari Mesir di area penerimaan, dengan para spesialis perlindungan, psikolog, tenaga medis, dan dukungan lainnya, kata kantor tersebut.
Pasien Gaza ke Mesir
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus melakukan evakuasi medis lintas batas. Pada Rabu 4 Februari 2026, WHO bersama mitranya membantu pemindahan delapan pasien dan 17 pendamping dari Gaza ke Mesir. Evakuasi tersebut berlanjut keesokan harinya.
Pada Kamis dini hari waktu setempat, mereka juga mendukung evakuasi medis tujuh pasien tambahan beserta 14 pendamping mereka.
Meski berbagai upaya terus dilakukan, PBB mengakui masih banyak hambatan yang mengganggu kelancaran operasi kemanusiaan di Gaza.
Rekan-rekan PBB bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan yang terus menghambat operasional, agar lebih banyak orang dapat menerima perawatan yang mereka butuhkan, secara aman dan bermartabat,”
kata OCHA.
WHO menegaskan fokus utamanya saat ini adalah memastikan arus bantuan kemanusiaan bisa masuk lebih banyak ke Gaza, sekaligus mempercepat pemulihan sektor kesehatan.
Krisis Kemanusiaan Meluas hingga Tepi Barat
Selain Gaza, situasi di Tepi Barat juga dinilai mengkhawatirkan. OCHA melaporkan tingkat pengungsian masih tinggi sejak awal tahun 2026.
Lebih dari 900 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah atau komunitas mereka, sebagian besar akibat kekerasan pemukim, pembatasan akses, serta penghancuran.
Dari 20 Januari hingga Senin (2/2) lalu, OCHA mengatakan pihaknya telah mendokumentasikan lebih dari 50 serangan oleh pemukim Israel yang mengakibatkan korban jiwa, kerusakan properti, atau keduanya.
Saat ini, OCHA menyebut pihaknya masih melakukan penilaian awal untuk memetakan tingkat kerusakan serta kebutuhan mendesak akibat serangan-serangan tersebut.
OCHA mengatakan mereka sedang melakukan penilaian awal terhadap kerusakan dan kebutuhan setelah insiden-insiden tersebut.
