Dokter Jelaskan Kondisi Pasien HIV/AIDS Jika tidak Mengkonsumsi ARV

ilustrasi obat (Foto: Pixabay)

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS adalah stadium paling akhir dari infeksi HIV ketika sistem imun sudah sangat lemah dan tubuh rentan terhadap infeksi serius.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sampai tahun 2023 tercatat ada sebanyak 57.299 orang positif HIV dari 6.142.136 jiwa yang mengidap HIV. Persentase kasus HIV tertinggi yang dilaporkan terjadi pada kelompok usia 25–49 tahun (sebanyak 64%, yang diikuti kelompok usia 20–24 tahun sebanyak 18,1%.

Sementara itu, dalam rentang Januari hingga Desember 2023, ditemukan sebanyak 17.121 orang mengidap AIDS. Dalam data tersebut, individu berusia 30–39 tahun menjadi kelompok dengan persentase AIDS tertinggi mencapai 49%, penderita berusia 20–29 tahun sebanyak 39,2%, dan kelompok usia 40–49 tahun 30,7%.

Faktor Risiko HIV/AIDS

HIV dan AIDS dapat terjadi pada siapa saja. Beberapa perilaku atau kondisi yang dapat meningkatkan risiko individu tertular penyakit menular seksual ini adalah:

  • Memiliki pasangan seks lebih dari satu
  • Berhubungan intim, baik melalui vagina, anus, atau mulut, tanpa mengenakan pengaman
  • Menderita penyakit menular seksual, seperti sifilis, klamidia, atau gonore
  • Berbagi jarum suntik pada penggunaan obat-obatan terlarang
  • Menerima transfusi darah atau transplantasi organ dari pendonor yang terinfeksi HIV
  • Menjalani prosedur medis dengan alat yang tidak steril

Infeksi HIV/AIDS merupakan penyakit seumur hidup. Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasi infeksi HIV, namun ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita.

Salah satu obat yang harus dikonsumsi pasien HIV/AIDS adalah ARV. Obat tersebut untuk mengobati infeksi HIV dengan cara menekan replikasi virus, menurunkan jumlah virus dalam darah, memperkuat sistem kekebalan tubuh (sel CD4), dan mencegah perkembangan HIV menjadi AIDS, sehingga pasien bisa hidup lebih sehat dan panjang umur serta mengurangi risiko penularan.

Karena obat ARV dikonsumsi setiap hari seumur hidup, banyak pasien yang berhenti konsumsi obat tersebut. Padahal hal itu sangat sangat memperburuk keadaan pasien.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sub spesialis Hematologi-Onkologi Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM mengatakan tanpa mengonsumsi ARV, semua orang yang terinfeksi HIV, lambat atau cepat akan memburuk kesehatannya dan meninggal.

Artinya manfaat ARV jelas sekali, dapat menyelamatkan nyawa, memperbaiki kualitas hidup, namun memang ada efek sampingnya, yang bisa diobati dan bisa diantisipasi,”

ujar Prof Zubairi dalam keterangannya di X @profesor zubairi, Selasa 20 Januari 2026.

Pengobatan HIV/AIDS dengan Obat Tradisional

Lebih lanjut Profesor Zubairi mengatakan mengenai obat tradisional, beras kencur, kunyit, cabe puyang, daun pepaya, jahe, semuanya memang baik untuk menjaga kesehatan dan terbukti aman setelah ratusan tahun dipakai oleh nenek moyang kita.

Tetapi posisi obat tradisional itu adalah pengobatan tambahan (suportif) bukan untuk mengobati dan membunuh virus HIV.

Artinya, ARV wajib dikonsumsi jangka panjang, boleh ditambah obat tradisional, beras kencur misalnya,”

ucapnya.

Profesor Zubairi menjelaskan prinsip ARV harus terus dilanjutkan. Buah-buahan dan sayur juga perlu setiap hari dimakan untuk menjaga kesehatan.

Buah berupa tomat, mangga, pisang, pepaya, jambu atau buah merah. Semua sama baiknya untuk kesehatan tubuh kita.

Demikian pula sayur, boleh kacang panjang, bayam, kangkung, labu siam, wortel, daun singkong atau yang lain,”

tandasnya.

Share This Article
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Redaktur
Ikuti
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.
Exit mobile version