Psikolog Meity Arianty memberi tanggapan terkait data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mencatat sebanyak 1,5 persen penduduk DKI Jakarta berusia di atas 15 tahun mengalami depresi. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional.
Meity mengatakan, angka tersebut sangat mengkhawatirkan dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, terutama pemerintah. Menurutnya, angka ini menandakan adanya kerentanan psikologis yang signifikan pada populasi remaja di Jakarta yang dipicu oleh berbagai tekanan seperti akademis, perubahan sosial dan identitas, cyberbullying, serta bullying di sekolah-sekolah yang paling mengkhawatirkan.
Serta kurangnya sistem dukungan emosional yang memadai,”
ujar Meity kepada owrite saat dihubungi melalui pesan singkat, Senin, 24 November 2025.
Angka tersebut, sambungnya, mengharuskan adanya intervensi preventif dan kuratif yang terstruktur, seperti peningkatan literasi kesehatan mental di sekolah dan keluarga, penyediaan layanan konseling yang mudah diakses dan terjangkau, serta upaya untuk menghilangkan stigma agar remaja lebih berani mencari pertolongan profesional.
Namun yang paling penting dari semua itu adalah peran pemerintah, terutama terkait bullying, bukan lagi sekedar preventif tapi efek jera dan konsekuensinya bagi pelaku bullying harus ditindak tegas,”
jelasnya.
Meity menjelaskan, penyebab depresi pada remaja di Jakarta sangat kompleks, seringkali berakar dari tekanan lingkungan sosial-akademik yang intens khas kota besar.
Faktor-faktor utamanya meliputi persaingan akademis yang sangat ketat, di mana kegagalan dianggap sebagai aib, dan tuntutan sosial untuk mempertahankan citra ideal (terutama dipicu oleh paparan media sosial yang masif), yang sering menyebabkan harga diri rendah dan citra tubuh negatif,”
terangnya.
Selain itu, kehidupan di Jakarta juga menghadirkan tekanan eksternal seperti kepadatan, kemacetan, dan kurangnya ruang hijau yang memicu stres kronis, diperburuk oleh potensi disfungsi atau kurangnya komunikasi berkualitas dalam keluarga yang sibuk, serta risiko tinggi mengalami perundungan (bullying), baik secara langsung di sekolah maupun daring.
Kombinasi dari tekanan internal dan eksternal inilah yang membuat remaja di ibu kota rentan mengalami depresi,”
tegasnya.
Menurut Meity, kota besar membuat remaja merasa dituntut sempurna dengan segala gemerlapnya kota tanpa diajak realistis.
Dan bukan hanya sekedar mimpi, sementara kenyataannya tidak seindah mimpi, sekali lagi pemerintah yang seharusnya punya andil besar menciptakan kesenjangan di kalangan masyarakat,”
tandasnya.
