Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 jadi momen yang dimanfaatkan banyak orang untuk bersilaturahmi dan juga berlibur. Tak jarang, perencanaan matang sudah dibuat sejak jauh-jauh hari.
Bahkan berdasarkan survei dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), terjadi lonjakan pergerakan 119,5 Juta orang pada Nataru 2025/2026. Hasil survei itu menunjukkan bahwa 42,01 persen penduduk Indonesia, atau sebesar 119,5 juta orang berencana melakukan perjalanan pada akhir tahun. Angka tersebut meningkat 2,71 persen dari tahun sebelumnya.
Di tengah antusias orang bepergian, hal yang tak boleh disepelekan adalah cuaca. Pasalnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan puncak cuaca ekstrem terjadi pada akhir tahun. Menurut ramalan BMKG, intensitas curah hujan terjadi dengan kategori menengah hingga tinggi, yakni berkisar antara 50–300 mm per dasarian.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardhani menjelaskan wilayah yang terdampak meliputi sebagian besar Sumatera, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian besar Kalimantan, Sulawesi bagian utara dan tengah, Maluku, Maluku Utara, serta sebagian besar Papua.
Sementara itu, wilayah dengan potensi curah hujan kategori sangat tinggi, yang dapat mencapai lebih dari 300 mm per dasarian, diprakirakan terjadi di Sulawesi Selatan,”
ujar Ida kepada owrite, Senin 22 Desember 2025.
Ida menambahkan, bagi masyarakat yang telah merencanakan perjalanan ke luar kota pada periode akhir tahun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan selalu memantau prakiraan dan peringatan dini cuaca dari BMKG.
Pantauan dilakukan di wilayah asal, sepanjang jalur perjalanan, maupun di daerah tujuan. Serta memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima, menyiapkan perlengkapan darurat, menghindari perjalanan saat hujan lebat dan angin kencang, dan selalu mengutamakan keselamatan,”
jelasnya.
Ida juga meminta kepada masyarakat untuk selalu update akan informasi yang berkaitan dengan kewaspadaan bencana, seperti :
- Memahami potensi risiko di wilayah masing-masing, khususnya daerah yang rawan terdampak banjir, banjir bandang, tanah longsor, maupun rob, sehingga masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan menghindari aktivitas di lokasi berisiko saat cuaca ekstrem.
- Memastikan kesiapan lingkungan dan infrastruktur pendukung, seperti saluran drainase, tanggul, serta sistem tata kelola sumber daya air di sekitar permukiman, agar mampu mengantisipasi peningkatan curah hujan yang signifikan.
- Memahami jalur evakuasi.
- Dan pastikan untuk memantau perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG, secara lebih rinci dan detail untuk tiap kecamatan di seluruh wilayah Indonesia, melalui :
- Website BMKG https://www.bmkg.go.id , untuk prakiraan cuaca hingga level kecamatan;
- Akun media sosial @infoBMKG;
- Aplikasi iOS dan android “Info BMKG”;
- Call center 196 BMKG;
- atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.




