Pengamat Politik Cita Institute, Efriza memberi tanggapan terkait Partai Gerakan Rakyat yang mengusung Anies Baswedan untuk maju di Pilpres 2029.
Ia melihat peluang Anies Baswedan cukup besar.
Peluang Anis memang besar. Tapi mereka juga harus berpikir. Sebesar-besarnya Anies, peluangnya adalah 24 persen. Berkaca dari Pilpres yang lalu, kemenangan suaranya Anies,”
ujar Efriza kepada owrite.
Efriza mempertanyakan terkait suara 24 persen dari pendukungnya ini apakah bisa dirawat dengan baik. Apalagi ia melihat Anies sempat menyatakan statusnya sebagai “pengangguran” politik.
Ia pun belajar dari partai-partai lain yang mengusung nama besar, misalnya Partai Idaman mengusung Rhoma Irama yang berujung tidak lolos.
Selain itu juga Partai Nasdem di 2014 yang memiliki citra bagus di masyarakat. Namun dia tidak melihat pergerakan Partai Gerakan Rakyat itu.
Tiba-tiba posisinya sudah mendeklarasikan, tiba-tiba Anies. Dan mereka lupa, dua pemilu yang kita sudah jalanin, tidak ada partai baru yang bisa lolos parlemen. Nah, ini mereka tidak belajar,”
ujar Efriza.
Menurut Efrizal cukup janggal ketika nama tidak populer tiba-tiba muncul. Padahal yang bisa lolos parlemen ada usul dan kajiannya. Dan rata-rata adalah mantan yang gagal sebagai ketua umum, seperti Prabowo dan Surya Paloh.
Anies itu berapa banyak loyalitasnya, orang-orang yang solid mendukung Anies. Sekarang itu, banyak orang-orang sudah berpikir, kesejahteraan masyarakat bisa diciptakan oleh Pak Prabowo nanti di 2029. Dan kita harus pahami pola Indonesia, presiden itu dua priode,”
jelasnya.
Menurut Efriza, Anies bisa berpotensi jadi presiden setelah lima tahun kosong tanpa kandidat baru.
“Nanti di 2029 PakPrabowo sudah pasti sangat kuat. Malah lagi, dalam kebijakan Pak Prabowo itu, sangat dekat dengan masyarakat. MBG, diturunin bulan puasa saja, sudah pasti dapat efek positif,”
Tambahnya.
