Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kini tengah memanas usai Presiden Donald Trump menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer. Tak berselang lama, Trump secara terang-terangan menyatakan bahwa AS akan menguasai minyak Venezuela.
Trump mengumumkan, pihaknya akan sementara mengambil alih pemerintahan Venezuela. AS akan terlibat dalam dinamika politik Venezuela yang mencakup tindakan militer lanjutan, hingga pengawasan terhadap industri minyak yang menjadi sektor strategis utama negara tersebut.
Kami akan menjalankan negara ini sampai saat kita bisa melakukan transisi yang aman, layak, dan adil,”
ujar Trump dikutip Rabu, 7 Januari 2026.
Lantas bagaimana dampak konflik tersebut ke perekonomian Indonesia?
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman mengungkapkan, konflik AS dan Venezuela tidak akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional. Hal itu lantaran hubungan kerja sama kedua negara relatif kecil.
Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela pada dasarnya tidak memberikan dampak langsung yang besar terhadap perekonomian Indonesia, mengingat hubungan dagang dan investasi bilateral kedua negara relatif sangat kecil,”
ujar Rizal kepada owrite.
Meski begitu, Rizal mengingatkan risiko dampak tidak langsung perlu dicermati oleh Indonesia, utamanya ke harga energi dan sentimen keuangan internasional.
Venezuela kata Rizal, merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Artinya, setiap eskalasi konflik yang berujung pada pengetatan sanksi atau gangguan pasokan, berpotensi mempengaruhi harga minyak global.
Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, dinamika ini menjadi kanal transmisi utama yang perlu diantisipasi,”
tekannya.
Asumsi Dampaknya ke Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Rizal menjelaskan, dari sisi inflasi tekanan nyata datang melalui komponen energi dan logistik. Harga minyak dunia hingga awal 2026 tercatat masih berada di kisaran US$60–US$65 per barel, atau di bawah asumsi ICP dalam APBN 2026 yang dipatok sekitar US$70 per barel.
Artinya, dalam skenario konflik yang tidak berkembang menjadi gangguan pasokan serius, dampaknya terhadap inflasi domestik relatif terkendali,”
terangnya.
Akan tetapi, dalam skenario konflik meningkat dan mendorong harga minyak naik sekitar US$10 per barel atau di atas baseline. Rizal mengatakan bahwa inflasi Indonesia berpotensi naik sekitar 0,3 poin persentase. Hal itu terutama terjadi melalui kenaikan biaya transportasi dan tekanan pada harga yang diatur pemerintah (administered prices).
Risiko inflasi akan jauh lebih besar bila penyesuaian harga energi dilakukan secara luas, bukan melalui skema yang terarah,”
katanya.
Sedangkan dampak konflik ke pertumbuhan ekonomi 2026, Rizal memproyeksikan laju pertumbuhan turun sekitar 0,30 poin persentase. Hitungan penurunan laju pertumbuhan itu terjadi bila kenaikan harga minyak global sebesar US$10 per barel.
Terhadap pertumbuhan ekonomi 2026, dampaknya diperkirakan lebih kecil dibandingkan inflasi, namun tetap bersifat negatif. Artinya, kenaikan harga minyak global sebesar US$10 per barel berpotensi menurunkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 poin persentase,”
jelasnya.
Rizal mengatakan, mekanisme itu bekerja melalui kenaikan biaya produksi dan logistik, pelemahan daya beli riil rumah tangga, serta naiknya biaya pendanaan ketika sentimen global memburuk dan rupiah tertekan.
Jika skenario eskalasi konflik yang ekstrim, maka memicu risk-off berkepanjangan dan harga minyak melonjak lebih dari US$20 per barel dimana perlambatan pertumbuhan sangat besar potensinya,”
tuturnya.
Dunia Usaha Waspadai Efeknya ke RI

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan ketegangan AS dan Venezuela kini diwanti-wanti oleh dunia usaha. Meskipun dampaknya ke perdagangan dan investasi Indonesia secara keseluruhan masih terbatas.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela memang perlu dicermati secara serius, namun juga harus ditempatkan secara proporsional,”
kata Shinta kepada owrite.
Shinta menjelaskan, secara struktur, hubungan perdagangan Indonesia-Venezuela masih relatif kecil dalam konteks total perdagangan nasional, meski dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa tren pertumbuhan yang cukup kuat, terutama dari sisi ekspor Indonesia.
Adapun dari data perdagangan, total perdagangan Indonesia-Venezuela di 2024 tercatat sekitar US$69,2 juta, dengan tren pertumbuhan periode 2020-2024 mencapai 25,4 persen. Pada periode Januari-Oktober 2025, nilai perdagangan meningkat menjadi US$82,7 juta, atau tumbuh 44,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh lonjakan ekspor Indonesia ke Venezuela, yang meningkat dari US$27,7 juta pada 2023 menjadi US$48,8 juta pada 2024, atau tumbuh sekitar 76 persen, dan kembali melonjak pada Januari-Oktober 2025 menjadi US$68,7 juta, atau naik 80,25 persen secara tahunan,”
jelasnya.
Namun, bila dilihat dalam konteks yang lebih luas kata Shinta, posisi Venezuela dalam peta ekspor Indonesia masih tergolong minor. Karena pada 2024, Venezuela berada di peringkat ke-108 dari 201 negara tujuan ekspor Indonesia, dengan pangsa sekitar 0,02 persen dari total ekspor nasional.
Sedangkan di kawasan Amerika Latin dan Karibia, Venezuela menempati peringkat ke-17 dari sekitar 33 negara, atau mewakili hanya sekitar 1,6 persen pangsa ekspor Indonesia ke kawasan tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekspor ke Venezuela cukup tinggi, kontribusinya terhadap kinerja ekspor nasional secara keseluruhan masih sangat terbatas,”
bebernya.
Jenis Produk yang di Ekspor dan Impor

Shinta menerangkan, komoditas ekspor utama Indonesia ke Venezuela didominasi oleh produk manufaktur dan barang konsumsi. Hal ini diantaranya sabun dan preparat pembersih, kendaraan dan bagiannya, serat stapel buatan, pakaian jadi non-rajutan, serta kertas dan karton.
Lalu dari sisi impor, Shinta mengungkapkan nilainya relatif terbatas sekitar US$20,3 juta pada 2024, dan turun ke US$14,0 juta pada Januari-Oktober 2025. Impor tersebut terutama berupa kakao/cokelat, dan sayuran dengan kontribusi yang sangat kecil terhadap kebutuhan nasional.
Dia mengatakan, neraca perdagangan Indonesia-Venezuela mencatat surplus yang semakin besar, yakni meningkat dari US$7,3 juta pada 2023 menjadi US$28,5 juta pada 2024, dan melonjak menjadi US$54,7 juta pada Januari-Oktober 2025.
Kendati demikian, Shinta mengatakan ada beberapa risiko yang diantisipasi dunia usaha. Hal itu diantaranya tertahannya laju ekspor, mengingat pertumbuhan ekspor yang sangat tinggi dalam dua tahun terakhir sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dan daya beli di Venezuela.
Kedua, dari sisi impor, terdapat risiko sektoral tertentu, misalnya pada komoditas kakao, yang meskipun nilainya kecil secara agregat, perlu dimitigasi oleh pelaku usaha terkait melalui diversifikasi sumber pasokan,”
tuturnya.
Respons Pemerintah

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mewaspadai efek konflik AS dan Venezuela. Ia menilai, kondisi itu akan memberikan dampak ke harga minyak dunia.
Airlangga menuturkan, dari hasil monitoring pemerintah, harga minyak dunia dalam satu hingga dua hari lalu tidak mengalami gejolak. Dia menyebut, harga minyak masih rendah di kisaran US$63 per barel.
Itu masih di monitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar US$63 per barel,”
ujar Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 5 Januari 2025.
Airlangga menuturkan, hingga saat ini belum ada antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah, sebab pemerintah masih mewaspadai kondisi tersebut. Begitu juga, kerja sama Indonesia dan Venezuela masih terus dipantau sejalan dengan dinamika politik yang berkembang di negara tersebut.
