Anggota Gerakan Nurani Bangsa (GNB) sekaligus Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin sejati, bukan sekadar penguasa.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Gerakan Nurani Bangsa di Gedung Pemuda, kompleks Gereja Katedral Jakarta, belum lama ini, sebagai refleksi dan seruan moral di awal tahun 2026.
Saya berharap dengan hadirnya Gerakan Nurani Bangsa di Gedung Pemuda ini, para pemimpin kita sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemimpin, bukan penguasa,”
kata Kardinal Suharyo.
Dalam penyampaiannya, Kardinal Suharyo secara jelas membedakan arti “pemimpin” dan “penguasa”. Menurutnya, pemimpin adalah figur yang hadir dengan keteladanan serta kesediaan untuk berkorban demi kepentingan orang banyak.
Saya sengaja menggunakan kata ‘Pemimpin’, bukan ‘Penguasa’. Pemimpin itu memimpin, memberi teladan. Dia akan mengorbankan segala sesuatu untuk yang dipimpinnya. Itulah yang saya sebut sebagai moralitas tinggi, integritas yang sangat unggul,”
jelasnya.
Penguasa Lebih Fokus pada Kepentingan Pribadi
Sebaliknya, Kardinal Suharyo menilai sosok penguasa cenderung kehilangan orientasi pada kepentingan bersama. Fokus kekuasaan, menurut dia, sering kali bergeser pada kepentingan kelompok, pribadi, atau keluarga.
Karena penguasa itu akhirnya tidak akan memikirkan kepentingan bersama. Yang dipikirkan adalah kelompoknya, pribadinya, keluarganya, atau apapun yang bukan kebaikan bersama,”
ujarnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa upaya mempertahankan kekuasaan kerap ditempuh dengan cara-cara yang tidak bermoral, seperti penggunaan kekerasan dan teror, meskipun sering dibalut dengan berbagai alasan pembenaran.
Kearifan Jawa tentang Pemimpin Ideal
Untuk menggambarkan sosok pemimpin yang ideal, Kardinal Suharyo mengutip kearifan lokal Jawa, yakni konsep ajrih asih. Istilah ini menggambarkan hubungan antara pemimpin dan rakyat yang dilandasi rasa hormat, cinta, dan keteladanan moral.
Ajrih itu takut, Asih itu hormat, mencintai. Bukan ketakutan seekor tikus yang dikejar kucing, bukan. Tetapi karena hormat, dia takut. Takut bukan takut salah, tetapi takut kalau tidak mengikuti moralitas tinggi dari pemimpinnya,”
ujar Suharyo.
Menurutnya, hubungan rakyat dengan pemimpin berbeda secara mendasar dibandingkan relasi rakyat dengan penguasa. Pada relasi dengan penguasa, rasa hormat dapat menghilang dan digantikan oleh ketakutan semata.
Melalui kehadiran Gerakan Nurani Bangsa, ia berharap para elite bangsa mampu menjalankan perannya secara sungguh-sungguh sebagai pemimpin yang berintegritas dan bermoral, bukan hanya sebagai pemegang kekuasaan.



