Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti materi promosi film berjudul “Aku Harus Mati” yang terpampang luas di ruang publik beberapa hari terakhir.
Baliho raksasa yang terpampang di sejumlah titik kota itu sangat persuasif di tengah tingginya kasus bunuh diri pada anak.
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, mengatakan dirinya sangat miris melihat kata-kata “Aku Harus Mati” pada judul film itu dapat mempengaruhi anak-anak, apalagi angka bunuh diri pada anak di Indonesia cukup tinggi.
Terus kemudian, apakah ini juga ada kaitannya dengan unsur kekerasan pada diri sendiri sendiri? Karena ada semacam ajakan, atau pun juga anak-anak jadi ter-framing bahwa aku harus mati. Dan itu kan semacam hopeless,”
ujar Diyah kepada owrite, Senin, 6 Maret 2026.
Selain itu, Diyah juga melihat baliho tersebut kurang ramah anak dan dapat melanggar prinsip perlindungan anak. Di mana salah satu prinsip pelindungan anak itu adalah kepentingan terbaik bagi anak.
Jadi itu yang sebenarnya kita harus kembali mengingatkan nilai-nilai moral bangsa, kemudian sisi edukasinya, tidak ramah anak, dan melanggar prinsip pelindungan anak. Apalagi ini di tempat umum ya, di ruang-ruang publik, di mana anak itu sangat bisa mengakses itu, dan anak juga bisa malah terprovokasi juga. Nah itu yang sebenarnya kami khawatirkan,”
paparnya.
Di sisi lain, Diyah mengapresiasi pihak promotor film yang sudah menurunkan baliho-baliho tersebut.
Namun ia meminta kepada sineas untuk tidak berhenti di situ saja, tapi juga bisa menjadi bahan evaluasi selanjutnya.
Jangan sampai seperti ini kejadian lagi. Kemudian juga, kalau bisa diganti dengan kata-kata yang lebih baik, daripada ‘aku harus mati’ dan lain sebagainya, mungkin itu lebih baik. Karena secara tidak langsung juga berpengaruh pada mental anak juga,”
jelasnya.
Diyah pun mengajak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Film (LSF) untuk lebih selektif lagi untuk memberikan izin judul film, juga dalam hal promosi, mana yang layak dipajang di tempat umum dan yang tidak.
Kami juga berharap, insan perfilman ketika memilih judul pun juga harus memperhatikan beberapa etika, apalagi kan film salah satu media di mana itu menjadi ruang konsumsi publik, kemudian itu juga bisa diakses siapapun. Apalagi anak-anak Indonesia ini kan jumlahnya sepertiga penduduk Indonesia,“
tandasnya.

