Diduga, salah satu penumpang terinfeksi saat mengikuti wisata darat sebelum naik kapal, lalu menyebarkan virus di lingkungan kapal yang tertutup.
Perjalanan kapal yang membawa 147 penumpang dan awak ini melintasi Antartika hingga Pulau Ascension. Namun, kapal kini terpaksa terisolasi di lepas pantai Tanjung Verde sambil menunggu izin berlabuh.
Menurut laporan WHO, kasus pertama muncul pada 6 April, ketika seorang pria asal Belanda mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan.
Kondisinya memburuk hingga mengalami kesulitan bernapas dan meninggal lima hari kemudian. Istrinya, yang juga jatuh sakit, meninggal beberapa minggu setelahnya di Afrika Selatan. Korban ketiga, seorang wanita, menyusul meninggal pada awal Mei.
Selain tiga korban meninggal, empat penumpang lain juga dilaporkan sakit, satu orang di antaranya dirawat intensif di sebuah rumah sakit Afrika Selatan setelah di evakuasi dari pulau Ascension pada 27 April.
Dari tujuh kasus yang tercatat, dua telah dikonfirmasi sebagai hantavirus, sementara lainnya masih dalam tahap dugaan.
Pengobatan Khusus Hantavirus
Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk hantavirus. Penanganan yang dilakukan hanya bersifat suportif, seperti pemberian oksigen, cairan infus, hingga penggunaan ventilator pada kasus berat.
Meski tergolong langka, hantavirus tetap menjadi ancaman serius, terutama bagi mereka yang sering beraktivitas di alam terbuka seperti pendaki atau pekemah.
Virus ini bisa terhirup melalui partikel dari kotoran atau urin hewan pengerat yang mengering.
Kasus ini juga mengingatkan pada kejadian tahun lalu yang melibatkan seorang warga di New Mexico yang meninggal akibat komplikasi hantavirus setelah diduga terpapar sarang tikus di lingkungannya.
Untuk mencegah penularan, para ahli menyarankan langkah sederhana namun penting yaitu menutup celah masuk tikus ke dalam rumah, menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang terkontaminasi, serta menghindari menyapu debu kotoran yang bisa menyebarkan partikel virus ke udara.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih terus menyelidiki kasus di kapal pesiar tersebut dan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kapal dapat segera berlabuh dengan aman. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit bisa datang dari mana saja, bahkan dari perjalanan yang tampak aman sekalipun.
Apa itu Hantavirus
Baru-baru ini wabah HantaVirus diduga menjadi sorotan setelah kapal pesiar M/V Hondinus tertahan di perairan Tanjung Verde.
Dilaporkan tiga penumpang kapal tersebut meninggal dunia disebabkan oleh virus ini. Lantas, apa itu HantaVirus?
Menurut World Health Organization (WHO), Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS adalah kelompok virus yang ditularkan kepada manusia melalui hewan pengerat, seperti tikus.
Penularannya terjadi ketika seseorang terpapar urin, kotoran, atau air liur hewan tersebut terutama jika partikel kecilnya terhirup.
Virus ini cukup menipu karna gejala awalnya terlihat ringan seperti flu, kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama pada paha, pinggul, punggung, dan terkadang bahu.
Bahkan, sebagian pasien juga mengalami sakit kepala, pusing, mual, muntah, diare, atau nyeri perut.
Gejala ini biasanya muncul dalam 1 hingga 8 minggu setelah kontak dengan hewan pengerat dan terinfeksi. Empat hingga 10 hari setelah fase awal, pasien dapat mengalami batuk dan sesak napas karena paru-paru terisi cairan.
HPS dapat mematikan, dengan 38 persen pasien yang mengalami gejala pernapasan berisiko meninggal akibat penyakit tersebut.
Selain menyerang paru-paru, hantavirus juga dapat menyebabkan Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Hingga kini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk mengatasi virus ini selain perawatan suportif seperti pemberian oksigen atau bantuan pernapasan di rumah sakit, istirahat, dan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi kontak dengan hewan pengerat, menutup celah rumah, menyimpan makanan dengan baik, dan membersihkan sumber makanan yang dapat menarik tikus.
Saat membersihkan kotoran tikus, masyarakat disarankan memakai sarung tangan dan cairan pemutih agar partikel yang berpotensi membawa virus tidak beterbangan.


