Kalau mendengar Idul Adha, pasti langsung kebayang soal sapi, kambing, dan pembagian daging. Padahal, ibadah kurban bukan hanya soal menyembelih hewan.
Ada banyak sunnah kecil yang sebenarnya dianjurkan dalam Islam, tapi sering terlewat karena dianggap sepele.
Padahal, dari hal-hal sederhana itulah yang membuat makna kurban jadi terasa lebih dalam. Bukan cuma tentang berbagi daging, tapi juga soal keikhlasan, kepedulian, sampai cara menghargai hewan yang dikurbankan.
Berikut beberapa sunnah kurban yang mungkin jarang disadari, tapi punya nilai besar dalam ibadah.
Tidak Potong Rambut dan Kuku Sebelum Kurban
Bagi orang yang memang sudah berniat berkurban, ada anjuran untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak masuk 1 Dzulhijjah sampai hewan kurbannya disembelih.
Anjuran ini berasal dari hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan Imam Muslim. Walau terdengar sederhana, sunnah ini jadi bentuk kesiapan diri dalam menyambut ibadah kurban.
Jangan Asal Perlakukan Hewan Kurban
Kadang tanpa sadar, hewan kurban diperlakukan kurang baik. Ada yang ditarik kasar, dibiarkan kepanasan, atau ditakut-takuti sebelum disembelih.
Padahal Islam mengajarkan agar hewan tetap diperlakukan dengan baik. Bahkan ada anjuran untuk mengasah pisau terlebih dahulu supaya hewan tidak terlalu merasakan sakit saat disembelih.
Dianjurkan Menyaksikan Penyembelihan
Kalau tidak bisa menyembelih sendiri, setidaknya dianjurkan hadir atau menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban. Karena di momen itu, seseorang jadi benar-benar merasakan makna pengorbanan.
Bahwa ada harta yang dikeluarkan dengan ikhlas demi menjalankan perintah Allah. Bagi sebagian orang, melihat langsung proses kurban juga bisa jadi pengingat soal rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
Jangan Pamer Kurban
Sekarang ini, suasana Idul Adha sering ramai di media sosial. Tidak sedikit yang tanpa sadar lebih sibuk menunjukkan ukuran sapi atau harga hewan kurbannya.
Padahal salah satu hal penting dalam kurban adalah menjaga niat tetap ikhlas. Kurban bukan lomba siapa paling besar atau paling mahal.
Justru sunnahnya adalah menjaga hati supaya ibadah tetap fokus karena Allah, bukan demi pujian orang lain.
Makan Sebagian Daging Kurban
Banyak yang mengira semua daging kurban harus dibagikan habis. Padahal dianjurkan juga untuk menikmati sebagian daging bersama keluarga.
Selain bentuk rasa syukur, momen makan bersama setelah kurban juga bisa mempererat hubungan keluarga. Biasanya suasana seperti ini justru jadi momen hangat yang paling diingat saat Idul Adha.
Memperbanyak Takbir
Sunnah lain yang sering terlupakan adalah memperbanyak takbir sejak hari Arafah sampai hari Tasyrik. Takbir bukan cuma dilantunkan di masjid, tapi juga bisa dibaca di rumah, di jalan, atau setelah salat. Tujuannya untuk mengingat kebesaran Allah dan menjaga suasana Idul Adha tetap terasa.
Tidak Menjual Bagian Hewan Kurban
Kulit, kepala, atau bagian lain dari hewan kurban tidak dianjurkan untuk dijual. Bahkan bagian itu juga tidak boleh dijadikan bayaran untuk tukang sembelih. Semua bagian hewan kurban sebaiknya dibagikan atau dimanfaatkan sebagai sedekah. Karena pada dasarnya, kurban adalah ibadah berbagi, bukan mencari keuntungan.
Menyegerakan Pembagian Daging
Kadang ada panitia yang menunda pembagian sampai terlalu lama. Padahal salah satu hal yang dianjurkan adalah membagikan daging secepatnya kepada yang membutuhkan.
Bagi sebagian orang, daging kurban mungkin makanan biasa. Tapi buat orang lain, itu bisa jadi makanan mewah yang jarang mereka rasakan.
Kalau dipikir-pikir, sunnah kurban sebenarnya mengajarkan banyak hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari ikhlas, tidak pamer, peduli sesama, sampai belajar menghargai makhluk hidup.
Karena itu, Idul Adha bukan cuma soal menyembelih hewan lalu selesai. Karena ada nilai pengorbanan dan kemanusiaan yang seharusnya ikut dirasakan.
Semakin memahami sunnah-sunnah kecil dalam kurban, semakin terasa juga bahwa ibadah ini bukan cuma ritual tahunan, tapi momen untuk memperbaiki hati dan hubungan dengan sesama.



