Di tengah cuaca yang sulit diprediksi, hujan deras kerap membuat masyarakat was-was akan datangnya banjir.
Dari kondisi inilah, lubang resapan biopori kembali dilirik sebagai solusi sederhana yang bisa diterapkan di lingkungan rumah.
Selain membantu mengurangi genangan air, biopori juga dinilai praktis karena dapat memanfaatkan sampah organik rumah tangga menjadi kompos alami.
Tidak heran jika metode ini mulai banyak diterapkan di kawasan perkotaan yang minim lahan resapan air.
Apa Itu Lubang Biopori?
Lubang biopori adalah lubang kecil vertikal di tanah yang dibuat untuk mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah. Metode ini diperkenalkan oleh Kamir R. Brata.
Lubang ini biasanya diisi sampah organik seperti daun kering, rumput, atau sisa sayuran dapur. Sampah tersebut nantinya akan mengundang cacing dan organisme tanah yang membentuk rongga-rongga kecil alami sehingga air lebih mudah meresap.
Manfaat Lubang Biopori
Lubang biopori memiliki berbagai manfaat bagi lingkungan. Salah satunya membantu mengurangi genangan air dan risiko banjir karena air hujan lebih cepat terserap ke dalam tanah.
Selain itu, biopori juga dapat menambah cadangan air tanah dan membantu mengurangi volume sampah organik rumah tangga.
Sampah yang dimasukkan ke dalam lubang akan terurai menjadi kompos alami yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman.
Cara Membuat Lubang Biopori
- Buat lubang vertikal di tanah dengan diameter sekitar 10 cm.
- Kedalaman lubang sekitar 80-100 cm atau tidak melebihi muka air tanah.
- Jarak antar lubang sekitar 50-100 cm.
- Perkuat bagian mulut lubang menggunakan semen setebal 2-3 cm.
- Isi lubang dengan sampah organik seperti daun kering atau sisa sayuran.
- Tambahkan sampah organik secara berkala jika volume mulai menyusut.
- Kompos yang terbentuk bisa diambil secara berkala sambil melakukan perawatan lubang.
- Jakarta Mulai Perbanyak Biopori Jumbo
345 Lubang Biopori Jumbo
Pemerintah Jakarta melalui Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan mencatat hingga pertengahan Mei ini telah membuat 345 lubang biopori jumbo dan 40 teba.
Program ini dilakukan untuk membantu mengurangi sampah organik rumah tangga sekaligus menekan pengiriman sampah ke TPST Bantar Gebang.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari persiapan penghentian pembuangan sampah umum ke Bantar Gebang yang direncanakan mulai Agustus 2026.
Selain menjadi solusi pengelolaan sampah, keberadaan biopori juga diharapkan dapat membantu meningkatkan daya resap air di kawasan padat penduduk yang rawan genangan saat hujan deras.


