Pemerintah AS secara resmi mendakwa mantan Presiden Kuba, Raul Castro terkait insiden penembakan dua pesawat sipil pada 24 Februari 1996.
Dakwaan ini diumumkan Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Rabu, 20 Mei 2026.
Raul Castro, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kuba, dituduh terlibat langsung dalam keputusan untuk menembak jatuh dua pesawat milik organisasi Brothers to the Rescue. Insiden tersebut menewaskan empat warga Amerika Serikat.
Tuduhan atas Konspirasi Pembunuhan
Dalam dakwaan tersebut, Raul Castro menghadapi tuduhan atas konspirasi pembunuhan warga negara AS, 4 dakwaan pembunuhan, dan 2 dakwaan penghancuran pesawat. Selain dirinya, lima orang lainnya juga turut didakwa.
Brothers to the Rescue merupakan organisasi yang didirikan pada 1991 oleh Jose Basulto, seorang pengungsi Kuba.
Organisasi ini dikenal aktif membantu imigran Kuba yang melintasi Selat Florida menggunakan rakit untuk menuju Amerika Serikat.
Menurut penyelidikan internasional dan pejabat AS, kedua pesawat tersebut masih berada di wilayah udara internasional saat ditembak.
Namun, pemerintah Kuba sejak lama membantah klaim ini dan menyatakan pesawat-pesawat itu telah memasuki wilayah udaranya.
Empat warga yang jadi korban adalah Carlos Costa, Armando Alejandre Jr., Mario de la Peña, dan Pablo Morales.
Pemerintah AS menyebut mereka sebagai warga sipil tak bersenjata yang sedang menjalankan misi kemanusiaan.
Menolak Dakwaan
Presiden Kuba saat ini, Miguel Díaz-Canel langsung menolak dakwaan tersebut. Menurutnya, ini adalah “manuver politik” tanpa dasar hukum dan menuduh pemerintahan Trump sengaja mengungkit kasus lama untuk meningkatkan tekanan terhadap Havana.
Pengamat politik dari Universitas North Texas, Orlando Perez menilai dakwaan ini merupakan bagian dari strategi AS untuk menekan Kuba, melihat saat ini hubungan kedua negara yang kembali memanas.
Menurutnya, langkah ini juga bisa terkait dengan dinamika politik dalam negeri Amerika menjelang pemilu.
Retorika keras yang dilayangkan Trump terhadap Kuba memicu kekhawatiran akan kemungkinan aksi militer. Karena dalam beberapa bulan terakhir, Washington semakin agresif menggunakan sanksi dan ancaman keamanan terhadap Havana.
Lee Schlenker dari Quincy Institute for Responsible Statecraft memperingatkan bahwa intervensi militer terhadap Kuba berisiko memicu krisis kemanusiaan dan gelombang migrasi besar-besaran ke Amerika Serikat.
Ia menekankan bahwa, Kuba bukanlah ancaman strategis utama bagi AS, melainkan negara kecil yang sedang menghadapi tekanan ekonomi berat.
Mengajukan Resolusi
Di Kongres, sejumlah senator Partai Demokrat seperti Ruben Gallego, Tim Kaine, dan Adam Schiff mengajukan resolusi untuk membatasi kewenangan Presiden Trump melakukan aksi militer terhadap Kuba tanpa persetujuan Kongres.
Dilihat dari pengumuman dakwaan yang sengaja dilakukan pada 20 Mei, yang merupakan Hari Kemerdekan Kuba atas AS pada 1902.
Gedung Putih dituduh sengaja memanfaatkan momentum tersebut untuk kembali mengkritik pemerintahan komunis Kuba.
Sebaliknya, Havana menuduh Amerika Serikat masih mempertahankan pola pikir kolonial terhadap negaranya.
Dengan meningkatnya ketegangan diplomatik dan retorika saling tuding, hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba saat ini kembali memasuki fase yang penuh ketidakpastian.
Kasus dakwaan Raul Castro ini kemungkinan besar akan menjadi salah satu babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara yang telah lama tegang.


