Otoritas Hong Kong mengumumkan, bahwa jumlah korban jiwa akibat kebakaran besar yang melanda beberapa gedung apartemen meningkat menjadi 83 orang, per Jumat, 28 Novemeber 2025 dini hari.
Dari jumlah tersebut, korban tewas mencakup seorang petugas pemadam kebakaran berusia 37 tahun serta dua pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Pemimpin Hong Kong, John Lee, menyampaikan bahwa angka kematian kemungkinan masih bertambah, mengingat 279 orang masih dinyatakan hilang akibat insiden tragis tersebut.
Pihak berwenang menjelaskan, bahwa kebakaran yang melanda kompleks delapan gedung apartemen itu baru berhasil dipadamkan setelah lebih dari 24 jam. Empat blok bangunan telah dinyatakan aman, sementara sisanya masih dalam proses pemeriksaan.
Kejadian ini disebut-sebut sebagai kebakaran paling mematikan di Hong Kong dalam hampir delapan dekade, menyaingi insiden tahun 1948 yang menewaskan lebih dari 130 orang akibat ledakan dan kebakaran besar.
Kebakaran Cepat Menjalar di Wang Fuk Court, Tai Po
Tragedi bermula pada Rabu, 26 November 2025, ketika kobaran api dengan cepat memenuhi gedung-gedung di Wang Fuk Court, Tai Po. Api bahkan melalap bangunan yang masih dalam proses pembangunan, sehingga makin mempercepat penyebaran.
Dari delapan blok gedung, tujuh di antaranya terdampak langsung oleh kebakaran. Tiga blok telah berada dalam kondisi terkendali, sementara blok lainnya mengalami kerusakan cukup parah.
Sejumlah penghuni apartemen mengaku tidak mendengar alarm kebakaran sama sekali saat insiden terjadi. Hal ini membuat mereka terpaksa berinisiatif mengetuk pintu tetangga untuk memberi peringatan akan bahaya.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran serius mengenai sistem keamanan dan kelayakan bangunan, mengingat kompleks apartemen tersebut sedang berada dalam tahap renovasi besar-besaran.
Jaring Konstruksi Diduga Pemicu Api Cepat Menyebar
Polisi menemukan, bahwa pada saat kejadian gedung-gedung tersebut tengah dilapisi jaring konstruksi. Jaring ini biasanya digunakan untuk mencegah material renovasi jatuh dari perancah.
Namun, dari rekaman video yang beredar, jaring tersebut tampak membara dengan sangat cepat. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa material jaring tidak memenuhi standar keselamatan karena seharusnya tidak mudah terbakar.
Oleh karena itu, penyelidikan kini juga menyoroti penggunaan perancah bambu dan jaring plastik yang membungkus bangunan, yang diduga menjadi salah satu faktor penyebaran api secara masif.

