Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat melaporkan bahwa dalam satu pekan terakhir, enam wilayah di Jabar mengalami berbagai bencana alam.
Daerah tersebut meliputi Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Cianjur, Subang, Bandung Barat, dan Purwakarta. Jenis bencana yang terjadi didominasi oleh banjir, tanah longsor, serta cuaca ekstrem.
Bencana tersebut berdampak pada 3.832 jiwa, dengan 87 orang terpaksa mengungsi. Selain itu, terdapat 3.097 bangunan terdampak, terdiri dari 12 rumah rusak berat, 45 rumah rusak sedang, dan 42 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada satu rumah ibadah, lima fasilitas pendidikan, serta 53 hektare area persawahan.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh pemerintah daerah di Jabar untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam yang bisa terjadi kapan saja.
KDM menegaskan bahwa kesiapan menghadapi bencana tidak hanya sekadar formalitas, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk nyata. Mulai dari peralatan yang memadai hingga keberadaan tim respon cepat di setiap wilayah.
Kepala daerah harus memiliki kesiapan bencana dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai, serta tim yang siap turun ke lapangan,”
KDM.
Puncak Musim Hujan Terjadi Dua Kali
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Mulku Engkun, mengungkapkan bahwa berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim hujan di Jawa Barat akan berlangsung dua kali, yaitu pada Desember 2025 serta Februari–Maret 2026. Kondisi itu diperkirakan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Curah hujan yang semakin tinggi dapat memicu tanah longsor dan banjir. Kami mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan seperti perbukitan dan bantaran sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan,”
Teten.
Teten menjelaskan bahwa masyarakat perlu mengenali ciri-ciri awal pergerakan tanah. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain retakan pada permukaan tanah, kemiringan bangunan mulai berubah, dan muncul suara seperti gesekan tanah atau bebatuan.
Jika melihat tanda-tanda tersebut, warga diharapkan segera menjauh ke lokasi aman untuk menghindari potensi korban.
Kerusakan Lingkungan Tingkatkan Risiko Bencana
Lebih lanjut, Teten menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak hanya mengandalkan peralatan atau respons cepat, tetapi juga perilaku manusia dalam menjaga lingkungan.
Perubahan fungsi lahan dan penebangan pohon secara liar memperbesar peluang terjadinya bencana. Jika kita menjaga alam, alam pun akan melindungi kita. Mengembalikan fungsi lingkungan menjadi langkah penting dalam pengurangan risiko bencana,”
Teten.
Di lain pihak, Kepala Bidang Darurat Logistik BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Cahyono Rahmat, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah langkah pencegahan dini. Upaya tersebut meliputi mitigasi, edukasi tata cara evakuasi, hingga simulasi penyelamatan jika terjadi bencana.
Jenis bencana yang kami antisipasi beragam, mulai dari gerakan tanah, banjir, hingga angin kencang dan puting beliung,”
Cahyono.
Pontianak Alami Banjir ROB
Tak hanya Sumatera dan Jawa yang terkena bencana, Kalimantan pun demikian. Banjir rob kembali merendam sebagian wilayah di Kalimantan Barat.
Hingga Senin 8 Desember 2025, air masih mengalir masuk ke permukiman warga dan melebar hingga ke sejumlah ruas jalan protokol di Kota Pontianak dan Kubu Raya. Kondisi ini membuat aktivitas lalu lintas terganggu dan arus kendaraan tersendat.
Merujuk catatan BMKG, saat ini Jawa Barat termasuk sudah memasuki musim hujan, dengan periode puncak yang bervariasi dari November 2025 hingga Maret 2026. Cuaca yang masih cenderung berawan pada pagi hingga siang hari, disambung hujan sejak sore.

