Hingga saat ini, bantuan untuk korban yang terdampak banjir dan longsor di Pulau Sumatera masih terus berdatangan. Relawan yang ingin memberikan bantuan secara langsung pun secara berangsur terus masuk ke lokasi bencana.
Salah satu wilayah yang didatangi relawan adalah Kabupaten Aceh Tamiang. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur dan terletak di perbatasan antara Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Alhamdulillah misi kemanusiaan berjalan baik ke 3 desa dan 1 desa dengan total 10 dusun,”
kata Arif Andiyatmoko, perwakilan relawan dari Ikatan Alumni Ilmu Komunikasi (Ilusi) Mercu Buana dan Jejak Ilusi, kepada owrite.id, Minggu, 21 Desember 2025.
Dijelaskannya, sebanyak 2 ton bantuan berhasil dihimpun untuk diberikan langsung kepada para korban terdampak banjir dan longsor di wilayah tersebut, Tim Ilusi, sambungnya, berhasil menembus 3 desa yakni Desa Sunting, Desa Serba dan Desa Ara yang berada di Aceh Tamiang.
Total KK keseluruhan 763 KK dan total paket sembako hampir seribu paket dan bentuk bantuan lainnya sekitar 73 koli. Masih tersisa 123 paket beserta kopi akan di bagikan ke pesantren di Kualasimpang, Aceh Tamiang, Insya Allah,”
ujar Arif.
Selain paket bantuan sembako, bantuan berupa susu serta makanan bayi, popok bayi, dan keperluan lainnya, juga ikut diberikan pada para korban terdampak. Selain itu, bantuan pangan siap saji yang bisa bertahan untuk 1 tahun ke depan juga telah disiapkan sebanyak 3.000 porsi.
Indra Gautama, relawan Ilusi Mercu Buana – Jejak Ilusi yang juga turun ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan menambahkan, lokasi dan jarak yang ditempuh untuk bisa sampai ke tiga desa tersebut cukup jauh. Diperlukan waktu hingga 4 jam dari arah Jalan Raya Tamiang untuk mencapai lokasi tujuan, lantaran jalurnya memutar karena akses jalan banyak terputus.
Kepala Dusun Ara, Ketu, menceritakan banjir bandang terjadi sejak Rabu pagi, 26 November 2025, datang secara perlahan. Kemudian secara bersangsur meninggi, hingga pada keesokan harinya desa tersebut tertutup oleh banjir lumpur.
Banjirnya setinggi bukit. Alhamdulillah tidak ada korban, semua warga selamat. Kalaupun ada yang meninggal, itu ada di posko (pengungsian), tapi meninggal karena sakit,”
ujarnya.
Di salah satu desa, warga menceritakan bahwa banjir yang melanda desa mereka ketinggiannya hingga setinggi tiang listrik. Bahkan, banjir menutup satu bangunan Taman Kanan-kanak (TK) yang berada di desa tersebut.


