Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu menceritakan lika-liku saat melakukan penangkapan Gubernur Papua almarhum Lukas Enembe korupsi gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Asep menceritakan, penyidik KPK telah melayangkan surat panggilan terhadap Lukas sebanyak dua kali. Namun panggilan itu tidak digubris hingga membuat penyidik mau tidak mau melakukan ‘jemput bola’.
Setiba di Papua, Asep mengutus penyidik dalam sebuah tim kecil. Hanya saja mereka mendapatkan informasi Lukas terdeteksi ingin melarikan diri.
Tim kecil itu mendeteksi bahwa ini sudah ada yang bersangkutan akan pergi. Pergi dari rumahnya di sebelah ke arah perbatasan akan menuju ke tempat akhirnya, seperti itu, tapi harus naik pesawat,”
cerita Asep di Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/11/2025).
Asep lantas meminta bantuan dengan menelepon pihak Brimob Polda Papua yang merupakan rekanannya untuk meminta penguatan. Namun, Asep tidak ingin membocorkan informasi penguatan tersebut dimaksudkan menangkap Lukas sekalipun terhadap rekannya sendiri.
Menjelang Lukas ditangkap disebuah resto makan, ada cerita menarik dibaliknnya. Salah seorang penyidik menunggu Lukas selesai makan dan keluar dari restoran. Penyidik itu pun bahkan sampai mencium tangan Lukas dan diajak ngobrol santai.
Kan saya tanya, ‘Lu gimana sih nangkapnya?’ ‘Oh begini, Bang. Pas kelihatan beliau keluar, langsung saya datangin, langsung saya cium tangan. ‘Bapak, mari kita ikut ke tempat Brimob.’ ‘Oh gitu, Adek? Ada apa? ‘Oh, Bapak mau diperiksa dulu sebentar.’ ‘Oh, periksa, ikutlah di sana. Gitu,”
kata Asep sambil meniru suara anak buahnya.
Singkat cerita Lukas berhasil diamankan oleh penyidik KPK. Namun masalah baru muncul, penangkapan Gubernur Papua itu bocor dan membuat simpatisannya mengepung Brimob Papua.
Dikepung di Brimob, yang ini dibawa pakai rantis, ada teman-teman ininya, dipanahin di jalan itu ada mobilnya saat dibawa,”
ujarnya.
Penyidik saat itu langsung bergegas membawa Lukas dengan menggunakan pesawat kecil di Bandara Sentani. Karena muatan yang terbatas, pesawat yang ditumpangi Lukas hanya bisa mengantar sampai Manado saja.
Masalah lain muncul, di Manado tidak ada pesawat carter yang bisa membawa penyidik dan Lukas langsung ke Jakarta
Disini, Asep meminta bantuan kepada rekannya Kombes Pol Herry Heryawan alias Herimen yang saat itu merupakan Perwira Tinggi (pati) di Detasemen Khusus (Densus) Anti-teror 88 Polri. Asep meminta tolong agar dicarikan pesawat carter yang bisa membawa anak buahnya dan Lukas dari Manado ke Jakarta.
“Akhirnya dicarikan lah, pesawat. Saya bilang itu, ‘Saya tapi enggak bawa duit ini loh.’ ‘Sudah gampang.’ Nah, ngutang dulu itu. Ngutang dulu, pesawatnya ngutang. Ngutang, tapi dipercaya, karena kami kan memang mau jemput,” jelas dia.
Setibanya di Jakarta, Asep dibuat terkejut lantaran pesawat yang membawa Lukas dan anak buahnya rupanya Pesawat Boeing 737.
“Cuma yang saya heran itu pas nyampe di bandara, itu saya pikir kan pesawat kecil, Pak. Minimal Bombardier lah yang kecil gitu ya, Bombardier yang baling-baling itu. Ini ternyata Boeing 737,” ungkapnya
“Pas lihat itu, gede banget ini pesawatnya. Langsung saya hampir pingsan waktu itu. Kenapa saya pingsannya? Bukan lihat pesawatnya yang gede. Ini bayarnya berapa ini? Pesawat segede itu,” tandas Asep.

