Mahasiswi UIN Suska Pekanbaru, Riau, Faradhila Ayu Parmesi, dibacok oleh teman laki-lakinya, Raihan Mufazzar. Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026 sekitar pukul 08.30 WIB.
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwanu Pandra Arsyad, menyebut terduga pelaku sudah memiliki niat untuk melakukan penganiayaan terhadap korban. Karena pelaku sudah menyiapkan senjata tajam berupa golok.
Peristiwa itu terjadi saat korban hendak menjalani sidang skripsi. Pelaku langsung mencari korban setibanya di kampus dan melakukan pembacokan. Akibat aksi nekat itu, korban mengalami tiga luka sayatan dan tusukan di daerah kepala, punggung dan lengan.
Faradhila pun masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru. Motif pembacokan diduga karena pelaku memiliki dendam atau sakit hati terhadap korban.
Psikolog Rose Mini Agoes Salim, M.Psi atau yang akrab disapa Bunda Romi memberi tanggapan terkait kasus tersebut. Menurut Romi, orang yang melakukan tindakan itu bukan berarti dia kurang kasih sayang dari orang tuanya. Tetapi di dalam diri orang tersebut tidak mendapat stimulasi moral.
Kalau orang mendapatkan stimulasi moral yang baik, maka orang tersebut dapat membedakan baik dan buruk. Karena moral adalah kemampuan manusia untuk bisa membedakan baik dan buruk.
Di dalam moral ada empati. Kalau dia bisa berempati dengan orang, dia akan tahu kalau dia tidak mau diperlakukan seperti itu, maka dia tidak akan melakukan hal tersebut pada orang lain. Kalau dia punya kontrol diri, dia tidak akan menggebu-gebu hanya mengikuti keinginannya saja. Kalau dia punya nurani, dia tidak akan melakukan hal yang salah, karena nurani itu tumbuh dari nilai-nikai adab yang diajarkan orang tuanya. Kalau dia memiliki kindness, dia tidak akan melakukan hal itu, karena kebaikan orang tidak diwujudkan dalam bentuk membunuh orang. Kalau dia punya toleransi, kalau orang itu tidak sepaham dengan dia, tidak mau mencintai dia, dia tidak akan mau melakukan pembunuhan itu. Juga ada respect dan fairness, tadi yang saya sebutkan itu adalah hal yang esensial dari moral,”
papar Romi.
Diduga, pelaku tidak memiliki stimulasi yang baik sejak dini sehingga dia tidak peka dan tidak bisa membedakan yang baik dan buruk saat mengambil keputusan. Selain itu juga paparan media sosial berpengaruh pada perilaku seseorang melakukan tindak kejahatan.
Alasan Tindak Kejahatan karena Cinta
Romi menjelaskan, ada beberapa alasan seseorang nekat melakukan tindak kejahatan karena cinta. Menurutnya, karena mereka tidak tahu cara menyelesaikan masalah hingga mencari jalan lain.
Cara anak-anak jaman sekarang menyatakan cinta, merasakan cinta, kadang-kadang sudah melampaui batas, kalau dia cinta sama seseorang tapi dia harus tahu juga menjaga sesuatunya agar tidak kemudian jadi kebablasan. Mungkin orang ini tidak tahu cara lain untuk melanjutkan kehidupan. Dia sangat tergantung pada orang itu,”
jelasnya.
Lantas kenapa pelaku merasa bergantung? Menurut Romi, diduga karena pelaku tidak punya pemahaman atau pergaulan dan lingkungannya. Pelaku merasa orang ini hanya satu-satunya yang memahami dia.
Selain itu, pelaku juga kemungkinan tidak memiliki life skill atau keterampilan hidup, sehingga masalah yang harusnya bisa diatasi dengan baik tapi berujung tidak baik.
Dari life skill ini, dia harus bisa berkomunikasi untuk mengutarakan sesuatu kepada orang lain. Kalau komunikasinya tidak bagus, juga bisa menyebabkan seperti ini. Lalu kemudian dia harus bisa berempati. Kalau tidak mau diperlakukan seperti itu sama orang lain, maka jangan melakukan hal tersebut pada orang lain juga, maka dia akan mengerem diri juga. Jadi sebenernya ada banyak hal keterampilan hidup yang tidak dimiliki pelaku, sehingga dia pikir ketika ada masalah jalan keluarnya hanya satu (kekerasan),”
tuturnya.
Bahwa tindakan kejahatan yang dilakukan oleh pelaku ini faktornya juga dari eksternal. Misalnya rasa kecewa, karena mungkin pacarnya ini tidak mau mengakui atau tidak menerima dia, rasa cemburu dan lain sebagainya. Selain itu, bisa juga dihasut teman-temannya.
Menurut Romi, cara untuk menghindari pelaku kekerasan adalah dengan menstimulasi moral agar seseorang bisa membedakan baik dan buruk, dan juga mengajarkan stabilitas emosi yang baik karena kontrol diri itu penting sekali.
Orang bisa jadi agresif, tapi kadang-kadang orang itu banyak sekali dipicu oleh kemampuan seseorang yahg tidak bisa memanage emosinya. Sebetulnya manusia bisa ngerem dan ngontrol dirinya. Tapi kadang-kadang ini tidak bisa dilatih, sehingga kalau tidak dilatih dimanapun dia berada kalau lagi marah bisa meluapkan emosinya,”
jelasnya.
Pendidikan Membentuk Mental
Di sisi lain, Pengamat Pendidikan Itje Chodidjah sangat menyayangkan kasus tersebut yang terjadi di lingkungan pendidikan. Namun ia menegaskan bahwa kasus tersebut bukan kejahatan di dalam kampus, melainkan personal, hanya saja dilakukan di dalam kampus.
Anak-anak di usia di atas 18 tahun yang sudah lulus SMA adalah orang dewasa yang sudah siap terjun ke masyarakat. Mereka tahu norma masyarakat, sehingga hal-hal semacam itu disayangkan kalau terjadi.
Nah ini sebenarnya kalau kaitannya pada pendidikan, adalah makanya kita itu usia SD sampai SMA itu saatnya membereskan pertumbuhan anak-anak itu, sehingga mereka siap jadi orang dewasa. Itulah sebabnya pendidikan dasar dan menengah itu memegang peranan penting untuk menguatkan mental, menguatkan kemampuan berpikir,”
jelas Itje kepada owrite.
Menurut Itje, hal yang terjadi ini lantaran pelaku tidak bisa meregulasi diri. Hanya karena tertolak cintanya, kemudian melakukan hal-hal yang sangat di luar jangkauan akal pikiran.
Ia pun berpesan dari sisi pendidik, bahwa pendidik dasar dan menengah perlu menyiapkan mental anak-anak untuk siap menjalani hidup. Jangan hanya mengejar prestasi akademik, tapi juga perlu menguatkan batin dan mental.
Jadi jangan kejar-kejaran berprestasi akademik dari SD sampi SMA, kejar sana kejar sini. Padahal nanti kekuatan batinnya, kekuatan dirinya jadi terkuras tenaganya untuk menguatkan akademik yang sebenarnya perlu pasti. Tapi ketika berurusan dengan meregulasi diri, karakter, tahu norma itu di usia SD-SMA,”
paparnya.
Cara Meregulasi Diri
Ada beberapa cara untuk meregulasi diri, antara lain.
- Membangun Kesadaran Emosi Sejak Dini
Anak perlu diajarkan untuk mengenali dan memberi nama pada emosi yang mereka rasakan, seperti marah, kecewa, takut, atau cemas. Di tingkat SD, guru dan orang tua bisa menggunakan pendekatan sederhana seperti refleksi harian atau diskusi ringan tentang perasaan setelah kegiatan belajar. Sementara di tingkat SMP dan SMA, latihan refleksi bisa lebih mendalam, misalnya melalui jurnal pribadi, diskusi kelompok, atau konseling sekolah. Kesadaran emosi ini menjadi fondasi agar siswa tidak bereaksi secara impulsif. - Melatih Keterampilan Pendidikan Diri dalam Aktivitas Sehari-hari
Sekolah tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk belajar mengelola tekanan. Misalnya dengan memberi tanggung jawab dalam kerja kelompok, mengajarkan cara menyelesaikan konflik secara sehat, atau melatih manajemen waktu. Melalui pengalaman tersebut, siswa belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi dan mereka bertanggung jawab atas pilihannya. - Menciptakan Lingkungan yang Aman Secara Psikologis
Anak akan lebih mudah mengembangkan regulasi diri, jika mereka merasa didengar dan dihargai. Guru dan orang tua perlu menghindari pendekatan yang terlalu menghukum, karena itu justru dapat menimbulkan kecemasan atau rasa takut. Sebaliknya, pendekatan dialogis, di mana siswa diajak berdiskusi tentang kesalahan dan cara memperbaikinya, akan membantu mereka belajar dari pengalaman. - Menciptakan Pendidikan Karakter dan Kesehatan Mental dana Kurikulum
Program seperti latihan mindfulness sederhana, kegiatan olahraga, seni, hingga aktivitas sosial dapat membantu siswa mengelola stres dan meningkatkan ketahanan mental. Hal-hal ini sering dianggap pelengkap, padahal justru penting dalam membentuk keseimbangan emosi dan kemampuan berpikir jernih.
