Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah mengejutkan dengan membatalkan pertemuan diplomatiknya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang sejatinya direncanakan berlangsung dalam waktu dekat.
Trump menyebut keputusan ini diambil karena frustasi terhadap andeknya pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina yang tak kunjung menunjukkan kemajuan berarti.
Setiap kali saya berbicara dengan Vladimir, percakapan kami selalu baik. Tapi setelah itu, tidak ada kemajuan sama sekali,” ungkap Trump.
Jadi saya memutuskan untuk membatalkan pertemuan itu. Rasanya belum waktunya. Kami akan lakukan di masa depan jika situasinya lebih tepat,” tambahnya.
Langkah pembatalan ini dilakukan bersamaan dengan pengumuman sanksi ekonomi baru Amerika Serikat terhadap Rusia, khususnya pada sektor minyak.
Sanksi tersebut menargetkan dua raksasa energi asal Rusia, Lukoil dan Rosneft, yang disebut masih aktif mendanai operasi militer di Ukraina.
Dengan menolak menghentikan perang yang tak masuk akal ini, pemerintah Rusia harus menanggung konsekuensinya. Sanksi ini ditujukan untuk menekan mesin perang Kremlin,” ujar Scott Bessent, Menteri Keuangan AS.
Trump sendiri menegaskan bahwa sanksi ini bersifat sementara, dengan harapan Rusia segera menghentikan agresinya di Ukraina.
Trump Tawarkan Jalan Damai
Dalam pidato terbarunya pada Minggu (19/10/2025), Trump kembali menggaungkan seruan perdamaian. Ia meminta kedua pihak untuk “membekukan perang” di posisi mereka sekarang dan segera memulai dialog diplomatik.
Yang saya katakan sederhana: berhentilah sekarang juga di garis pertempuran, hentikan pembunuhan, dan pulang ke rumah masing-masing,” tegas Trump.
Menurutnya, wilayah Donbas yang kini menjadi pusat pertempuran sengit bisa dijadikan titik awal negosiasi damai.
Biarkan wilayah itu sebagaimana adanya. Sekitar 78 persen sudah dikuasai Rusia. Biarkan seperti itu dulu, lalu negosiasikan sisanya,” tambahnya.
Eropa Dukung, Rusia Menolak
Usulan Trump menuai beragam reaksi. Ukraina dan sejumlah negara Eropa menyatakan dukungannya terhadap ide gencatan senjata dan negosiasi di garis pertempuran saat ini.
Namun, para pemimpin Eropa tetap menuding Vladimir Putin sebagai penghambat perdamaian sejati.
Rusia terus menunda-nunda. Ukraina adalah satu-satunya pihak yang sungguh-sungguh menginginkan perdamaian,” bunyi pernyataan bersama negara-negara Eropa.
Sebaliknya, Rusia menolak keras usulan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa posisi Rusia tidak berubah operasi militer akan terus berjalan hingga “tujuan strategis” tercapai.

