Ketegangan diplomatik antara Jepang dan China kembali mencuat setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait kemungkinan langkah Jepang jika terjadi krisis militer di Taiwan.
Situasi yang memanas ini juga dinilai berdampak langsung pada Indonesia.
Pengamat politik internasional, Edwin Tambunan, menjelaskan bahwa meski peluang pecahnya perang terbuka antara China, Taiwan, dan Jepang sangat kecil, dinamika ini tetap menimbulkan risiko besar.
Menurut Edwin, China tidak akan sembarangan memulai perang dengan Taiwan maupun Jepang karena keduanya merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, yang berarti konflik akan melibatkan AS secara langsung.
Perang antara China dan dua sekutu utama AS hampir mustahil terjadi. Namun, jika pecah, Taiwan dan Jepang akan menyeret banyak negara lain yang menjadi mitra dagangnya, salah satunya Indonesia,”
Edwin kepada Owrite.id, Senin (16/11/2025).
Lanjut Edwin, potensi konflik bersenjata di kawasan dapat mengganggu hubungan dagang dan investasi.
Jika perang benar terjadi, Indonesia berpotensi kehilangan dua mitra dagang terbesar sekaligus negara penyumbang investasi asing terbesar selama ini China dan Jepang.
Kehancuran bersama secara ekonomi akan dialami baik China, Taiwan, Jepang, maupun negara-negara mitra mereka. Tentu saja tidak terkecuali Indonesia. Apabila perang terjadi, Indonesia akan kehilangan mitra dagang sekaligus negara penyumbang FDI terbesarnya selama ini, yaitu China dan Jepang,”
Edwin.
China Marah, Jepang Ajukan Protes Balasan
Situasi semakin menegang setelah Kementerian Luar Negeri China memanggil Duta Besar Jepang untuk Beijing, Kenji Kanasugi, pada Jumat (14/11).
China mendesak PM Takaichi mencabut ucapannya yang dinilai memicu ketegangan mengenai isu Taiwan.
Di sisi lain, Jepang juga melayangkan protes resmi kepada China setelah seorang diplomat Beijing mengunggah pernyataan bernada ancaman di media sosial sebagai respons atas pernyataan Takaichi.
Beberapa waktu sebelumnya, Takaichi mengungkapkan bahwa konflik yang melibatkan kekuatan militer di Taiwan dapat dikategorikan sebagai situasi yang “mengancam kelangsungan hidup Jepang”.
Hal ini memberi sinyal bahwa Tokyo dapat menggunakan hak pertahanan diri kolektif berdasarkan konstitusi mereka.
Pernyataan tersebut langsung memancing kemarahan Beijing, yang selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menegaskan bahwa isu tersebut merupakan urusan internal.
Situasi Makin Panas
Salah satu faktor yang memperburuk keadaan adalah unggahan Xue Jian, Konsul Jenderal China di Osaka, di platform X.
Dalam unggahannya, ia menyindir Takaichi dan menyebut siap melakukan “tindakan kekerasan ekstrim tanpa ragu-ragu”.
Unggahan itu kemudian dihapus, namun dampak diplomatisnya tetap terasa. Jepang mengecam keras, sementara China tetap pada posisi kerasnya.
Sebagai langkah tambahan, pemerintah China mengeluarkan himbauan resmi agar warga negaranya menunda perjalanan ke Jepang.
Calon pelajar yang berencana menempuh studi di Jepang pun diminta mempertimbangkan kembali, dengan alasan situasi politik yang tidak stabil dan potensi ancaman keselamatan.
Kebijakan ini menekan Jepang mengingat besarnya jumlah wisatawan dan pelajar asal China yang setiap tahun berkunjung dan tinggal di negara tersebut.

