Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan melakukan panggilan langsung kepada pemerintah Kamboja dan Thailand menyusul pecahnya kembali konflik bersenjata di wilayah perbatasan kedua negara Asia Tenggara tersebut.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah acara di Pennsylvania, di mana Trump mengungkapkan bahwa ia akan mencoba menghentikan eskalasi yang mulai memanas sejak Senin 8 Desember 2025.
Saya harus menelepon mereka besok. Saya akan menghentikan perang antara dua negara yang sangat kuat, Thailand dan Kamboja,”
Trump pada Selasa (9/12), seperti dikutip Reuters.
Trump Klaim Berhasil Redam Banyak Konflik Global
Dalam pidatonya, Trump menyebut dirinya telah berperan besar dalam menyelesaikan berbagai konflik dunia, termasuk ketegangan Pakistan–India dan Israel–Iran.
Ia juga menyinggung bahwa perselisihan Thailand–Kamboja sebelumnya berhasil diredakan berkat upayanya, meski kini perang kembali pecah.
Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja memasuki hari ketiga pada Rabu 10 Desember 2025. Laporan militer Thailand menyebut pasukan Kamboja menembakkan roket BM-21 yang jatuh di dekat Rumah Sakit Phanom Dong Rak, Surin.
Akibat perang ini sekitar 400.000 warga Thailand di wilayah perbatasan telah dievakuasi, 21.000 warga Kamboja juga dipindahkan ke lokasi aman.
Dari pihak korban jiwa Kamboja, 9 warga sipil tewas, 20 luka berat, Thailand 4 tentara tewas, 68 orang luka-luka.
Thailand Tolak Mediasi, Kamboja Siap Berunding
Pemerintah Thailand menegaskan bahwa saat ini tidak ada ruang untuk negosiasi dan kondisi dianggap tidak mendukung adanya mediasi pihak ketiga.
Sementara itu, penasihat utama PM Kamboja Hun Manet menyampaikan bahwa Phnom Penh terbuka untuk berdiskusi kapan saja.
Konflik terbaru dipicu insiden tewasnya seorang tentara Thailand pada Senin dini hari saat kontak senjata. Kedua negara saling menuding sebagai pihak yang memulai serangan.
Walau keduanya sempat menyepakati gencatan senjata, pelanggaran perjanjian sering terjadi, bahkan setelah kesepakatan damai yang dimediasi Trump dan PM Malaysia Anwar Ibrahim pada Oktober lalu.
Konflik Berkepanjangan: Ratusan Ribu Pengungsi
Perang Thailand–Kamboja sebelumnya pecah pada Juli, berlangsung lima hari, dan menyebabkan 48 orang meninggal, dan 300.000 warga harus mengungsi.
Dengan perang kembali meledak, situasi kemanusiaan di perbatasan ASEAN ini semakin mengkhawatirkan.
