Kasus TBC di Jakarta cukup tinggi per November 2025. Pemprov DKI Jakarta mencatat, sebanyak 323.796 orang telah diperiksa karena bergejala Tuberkulosis (TBC).
Dari jumlah tersebut, ditemukan 49.152 kasus TBC, yang terdiri atas 48.278 kasus TBC sensitif obat dan 874 kasus TBC resisten atau kebal obat, atau sekitar 2 persen dari total kasus.
Saat ini, sebanyak 44.456 orang atau 90 persen dari kasus ditemukan telah memulai pengobatan.
Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat pada 2024 mencapai 76 persen, sedangkan keberhasilan pengobatan TBC resisten obat pada 2023 tercatat sebesar 63 persen.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terus berupaya menekan angka kasus TBC.
Saat menerima audiensi Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, Pemprov membangun koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mencegah penyebaran Tuberkulosis (TBC) di Indonesia, khususnya di Jakarta.
Lebih lanjut, Pramono menjelaskan salah satu langkah inovatif lain yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dalam pencegahan TBC adalah membentuk Kampung Siaga TBC.
Kampung Siaga TBC ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk memberikan edukasi, pendampingan, dan dukungan kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan.
Kami menargetkan pada tahun 2030, seluruh RW di Jakarta menjadi Kampung Siaga TBC yang aktif dan berkomitmen untuk menuntaskan TBC. Hingga saat ini, telah terbentuk 563 Kampung Siaga TBC berbasis RW di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta. Dari sisi pelayanan, penanganannya telah dikembangkan di 832 fasilitas kesehatan, yang mencakup 330 puskesmas, 118 rumah sakit swasta, 53 rumah sakit pemerintah, 265 klinik swasta, 46 klinik pemerintah, dan 20 tempat praktik mandiri dokter,”
Gubernur Pramono saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Pihaknya juga akan menggandeng Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan puskesmas untuk melakukan skrining kesehatan rutin, serta menyediakan ruang isolasi bagi pasien TBC.
Bahkan, kampanye keluarga sadar TBC, menggerakkan kader PKK dan dasawisma untuk deteksi dini di tingkat rumah tangga, ikut digencarkan. Maka, kami mendorong partisipasi aktif warga bergerak bersama, untuk mewujudkan kota yang sehat dan bebas dari TBC,”
Pramono.
Tak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta akan terus memperkuat gerakan TOSS (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) TBC sebagai langkah nyata agar masyarakat semakin sadar, berani memeriksakan diri, dan menjalani pengobatan hingga tuntas.
Oleh karena itu, kita bersyukur dengan Pak Wamenkes ini karena beliau sangat concern terhadap TBC, beliau memang ahli TBC. Maka, program TOSS yang kemarin diadakan di Bundaran HI itu adalah salah satu ide beliau. Lalu, kemarin beliau sudah turun ke lapangan bersama Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk melihat, memotret, bagaimana persoalan tentang TBC yang ada di Jakarta,”
Pramono.

