Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melakukan pertemuan tertutup dengan Jaksa Agung (JA) ST Burhanuddin di Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Rabu, 14 Januari 2026.
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna mengatakan pertemuan antar keduanya berlangsung selama satu jam. Mereka membahas mengenai potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Kebetulan juga koordinasinya dalam rangka, itu kan, kita melihat potensi-potensi terkait dengan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak),”
kata Anang di komplek Kejagung, Rabu, 14 Januari 2026.
Anang mengklaim Kejagung selama ini sudah menyumbang triliunan rupiah BNPB kepada kas negara seperti pada saat melakukan penyitaan kemudian dilelangkan.
Pertemuan antara Purbaya dengan JA untuk berkoordinasi mengenai sektor mana saja yang sekiranya bisa dijadikan PNBP.
Ya nanti kalau memang ada potensi dari PNBP yang bisa direalisasikan, ya mungkin diadakan penagihan, nanti otomatis kan kita akan setor ke kas negara. Tentunya kan masuk bersinergi dengan Kemenkeu,”
pungkasnya.
Purbaya sebelumnya menyatakan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang 2025 defisit sebesar Rp695,1 triliun, atau 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit ini tercatat lebih tinggi dari outlook 2025 yang sebesar 2,78 persen, dan target APBN sebesar 2,53 persen. Meski demikian, Purbaya mengatakan, pihaknya memastikan defisit tidak berada di atas 3 persen.
Defisitnya membesar ke Rp695,1 triliun itu lebih tinggi dibanding APBN yang sebesar Rp662,0 triliun. Tapi kita tetap jaga pastikan bahwa defisitnya tidak di atas 3 persen. defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen,”
ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis, 8 Januari 2025.
Adapun penyebab defisit APBN karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan yang diperoleh. Bila dilihat, realisasi pendapatan negara per Desember 2025 tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau hanya 91,7 persen dari target APBN yang sebesar Rp3.005,1 triliun, dan outlook Rp2.865,5 triliun
Sedangkan untuk belanja negara realisasinya Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen, dari target APBN 2025 Rp3.621,3 triliun dan outlook Rp3.527,5 triliun.
Kalau kita lihat presentasi dari APBN-nya yang pendapatan negara hanya 91 persen, sedangkan belanja 95,3 persen. Anda pasti nanya kenapa nggak dipotong belanja supaya defisitnya tetap kecil, tapi kita tahu kan ketika ekonomi kita sedang mengalami turun ke bawah kita harus memberikan stimulus ke perekonomian,”
katanya.
Bila dirinci, realisasi pendapatan negara Rp2.756,3 triliun terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari target 2025, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp534,1 triliun atau 104,0 persen, dan penerimaan hibah realisasinya Rp4,3 triliun atau 733,3 persen.
Sementara untuk realisasi belanja negara Rp3.451,4 triliun terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari target, dan transfer ke daerah (TKD) realisasinya Rp849 triliun atau 92,3 persen.



