Kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih sangat tinggi. Bahkan hasil survey dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) kekerasan fisik terhadap perempuan di tahun 2024 sebanyak 7,2 persen.
Menurut data, angka tersebut turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 8,2 persen. Meski demikian, prevelensi angka kekerasan terhadap perempuan tetap tinggi.
Kasus kekerasan terhadap perempuan sendiri banyak terjadi di Indonesia timur.
Ketua Perempuan Mahardika, Mutiara Ika Pratiwi memberi tanggapan terkait kasus kekerasan terhadap wanita, khususnya di Indonesia timur.
Menurutnya, menurunnya kasus di tahun 2024 ini terjadi karena banyak faktor, seperti tingkat pelaporan yang dilakukan masyarakat.
Tingkat pelaporannya itu apakah mudah aksesnya, karena itu bisa mempengaruhi ya, data yang turun itu bukan berarti tidak otomatis kan kerasannya itu turun pada faktanya, jadi kita perlu sensitif terhadap itu,”
ujar Ika kepada owrite baru-baru ini.
Selain itu, Ika juga melihat angka kekerasan terhadap perempuan banyak terjadi di wilayah Indonesia timur karena banyak faktornya.
Seperti kurangnya pelaporan. Selain itu, menurut Ika masih banyak masyarakat yang tidak paham mengenai kekerasan seksual.
Ketidaktahuan tentang informasi apa itu pelecehan seksual, itumempengaruhi, (korban) tidak menyadari menyadari. Jadi kita nggak tahu, kalau siul-siul ternyata itu pelecehan. Itu dari penelitian kami membuktikan bahwa banyak korban juga nggak tahu kalau itu pelecehan. Taunya kalau misalnya sudah perkosaan, itu baru pelecehan atau kekerasan, tapi diraba-raba itu sudah biasa,”
jelasnya.
Menurut Ika, hal itu dipengaruhi karena kurangnya sosialisasi mengenai kekerasan dan pelecahan seksual.
Yang kedua, kultur budaya yang menormalisasi kekerasan. Itu sangat mempengaruhi. Karena seorang anak bisa melihat memukul ibu itu biasa. Jadi dia akan mereplikasi itu ketika dia dewasa atau dengan teman perempuannya, dia akan melakukan seperti itu. Jadi aku pikir itu hal-hal yang mempengaruhi tingginya angka kekerasan,”
tuturnya.
Selain itu, sistem budaya patriaki yang dianut banyak masyarakat Indonesia juga mempengaruhi tinginya angka kekerasan seksual.
“Jadi kalau patriarki itu kan konsep besar juga ya yang bisa merasuk ke berbagai, entah itu buku, pelajaran atau iklan di TV misalnya kayak gitu ya. Jadi itu yang jelas mempengaruhi,”
tandasnya.


