Cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, mulai dari RON 90 hingga RON 98, dipastikan masih berada di atas batas minimal nasional menjelang Hari Raya Idulfitri.
Pemerintah menyebut stok tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode mudik dan libur panjang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan cadangan BBM nasional masih berada di atas ambang batas minimal yang ditetapkan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Bahlil saat melaporkan kondisi energi nasional kepada Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta.
Bahlil menjelaskan, cadangan Pertalite atau bensin RON 90, yang merupakan BBM bersubsidi saat ini mencapai 24,39 hari. Angka tersebut disebut melampaui batas minimal cadangan nasional.
Bapak Presiden kami laporkan bahwa ini adalah kondisi BBM kita sekarang. Jadi untuk Pertalite, RON 90 ini yang bensin subsidi. Itu cadangan kita adalah 24,39 hari, melampaui batas minimal dari apa yang direncanakan oleh nasional kita,”
kata Bahlil, dikutip Senin, 16 Maret 2026.
Sementara itu, cadangan Pertamax atau bensin RON 92 tercatat mencapai 28 hari. Bahlil menuturkan batas minimal cadangan untuk jenis BBM tersebut hanya sekitar 11 hari.
Pertamax, RON 92 ini yang industri yang harga pasar ini yang kaya Pak Rosan pakai 92 98. Itu 28 hari, minimal 11 hari. Ini kalau menteri enggak boleh pakai RON 90 Pak, 92,”
ujarnya.
Adapun stok bensin dengan oktan lebih tinggi, yakni Pertamax Turbo atau RON 98, tercatat mencapai 31 hari.
Turbo, ya kaya Pak Mentan Pak mobilnya bagus jadi RON 98 itu 31 hari Pak. Jadi saya pikir untuk urusan bensin Insyaallah clear Bapak,”
tegas Bahlil.
Selain bensin, pemerintah juga memastikan cadangan energi lain dalam kondisi cukup. Stok solar bersubsidi tercatat mencapai 16,41 hari, sementara solar nonsubsidi mencapai 46 hari.
Adapun cadangan avtur mencapai 38 hari dan minyak tanah disebut dalam kondisi aman.
Bahlil juga menyoroti cadangan LPG nasional yang saat ini berada pada level 15,66 hari.
Ia menegaskan pemerintah telah menyiapkan strategi untuk menjaga pasokan LPG di tengah dinamika pasar global.
“Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG Insyaallah aman Bapak,”
bebernya.
Menurut Bahlil, sebagian besar impor LPG Indonesia masih bergantung pada Amerika Serikat. Dari total kebutuhan sekitar 7,6 juta ton LPG impor, sekitar 70 persen–75 persen berasal dari Amerika Serikat (AS), sementara sekitar 20 persen berasal dari kawasan Timur Tengah.
Ia mengatakan pemerintah kini mulai mendiversifikasi pasokan energi, termasuk dengan menambah kontrak jangka panjang dari negara lain seperti Australia.
Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG,”
tutup Bahlil.


