Setelah resmi berpisah dengan Timnas Indonesia, nama Patrick Kluivert kini jadi perbincangan hangat media-media Eropa. Sosok legendaris Belanda itu mendapat sorotan tajam lantaran karier kepelatihannya dianggap jauh dari kata sukses.
Pada Kamis (16/10), PSSI mengumumkan pemutusan kerja sama dengan Patrick Kluivert dan seluruh tim kepelatihannya, termasuk di level U-23 dan U-20.
Pemutusan ini dilakukan melalui mekanisme mutual termination, atau kesepakatan bersama, setelah mempertimbangkan “arah strategis pembinaan tim nasional ke depan.”
Padahal, kontrak Kluivert baru saja dimulai pada Januari 2025 dengan durasi dua tahun. Namun, kegagalan membawa Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi titik akhir masa baktinya.
Media Eropa Kompak Soroti Kegagalan Kluivert
Langkah PSSI memecat Kluivert ternyata tak luput dari perhatian media Eropa. Media Inggris seperti The Sun dan talkSport menulis kritik tajam terhadap mantan pemain Ajax dan Barcelona itu.
Satu-satunya keberhasilan yang layak dicatat sejak pensiun pada 2008 adalah ketika ia menjadi asisten pelatih Belanda dan finis ketiga di Piala Dunia 2014,” tulis The Sun.
Sementara itu, France24 menilai Kluivert tak pernah punya masa kepelatihan yang panjang dimanapun ia bekerja.
Karier manajerial Patrick Kluivert tidak terlalu spektakuler,” tulis media asal Prancis itu.
Sejauh ini, Kluivert hanya tercatat pernah melatih Timnas Curacao, Adana Demirspor, dan Timnas Indonesia — dengan total hanya 34 pertandingan di sepanjang karier kepelatihannya.
Legenda di Lapangan, Tapi Gagal di Pinggir Lapangan
Meski kerap dikritik sebagai pelatih, tidak bisa dimungkiri bahwa Patrick Kluivert merupakan salah satu striker terbaik di eranya.
Kluivert memulai karier profesional pada 1994 bersama Ajax Amsterdam, kemudian berkelana ke klub besar seperti AC Milan, Barcelona, dan Newcastle United.
Sepanjang karirnya, ia memenangkan 3 gelar Eredivisie (dua bersama Ajax, satu bersama PSV), 1 gelar La Liga bersama Barcelona, 1 trofi Liga Champions & Piala Super Eropa bersama Ajax, 2 Piala Super Belanda.
Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi top skor Euro 2000 dengan torehan 5 gol untuk Timnas Belanda.
Kluivert bahkan masih memegang rekor sebagai pencetak gol termuda di final Liga Champions, yakni pada usia 18 tahun 327 hari, ketika membawa Ajax menang pada 1995.
Meski kini dihujani kritik tajam, publik sepak bola dunia tetap mengakui kontribusi Patrick Kluivert di masa jayanya sebagai pemain.
Namun, fakta bahwa ia belum mampu meniru kesuksesan itu sebagai pelatih menjadi tantangan besar dalam karier barunya di dunia manajemen sepak bola.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, nama Kluivert mungkin akan diingat sebagai pelatih asing yang sempat memberi warna baru meski akhirnya berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
