Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan pentingnya penyelesaian konflik dualisme kepengurusan cabang olahraga (cabor) yang hingga kini masih terjadi di Indonesia.
Erick meminta Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk segera turun tangan menyelesaikan permasalahan tersebut.
Per November 2025, tercatat empat cabang olahraga masih terpecah karena dualisme kepengurusan, yaitu tenis meja, anggar, tinju, dan sepak takraw.
Sengketa terbaru bahkan terjadi di tubuh PB Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI), setelah Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) ditolak oleh sebagian anggota.
Masalah dualisme ini harus segera diselesaikan. Setelah itu baru kita bisa fokus pada konsolidasi Desain Besar Olahraga Nasional, termasuk membahas PON, SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade,”
Erick Thohir dalam keterangan resmi Kemenpora.
KOI dan KONI Ambil Langkah Konkret
Erick menekankan bahwa KOI dan KONI memiliki peran strategis untuk menjadi mediator dan penentu arah penyelesaian konflik.
Menurutnya, jika permasalahan ini terus dibiarkan, maka atlet yang paling dirugikan.
Kemenpora sudah melakukan introspeksi dengan memperbaiki tata kelola internal. Sekarang saatnya KOI, KONI, dan pengurus federasi olahraga juga melakukan hal serupa,”
Erick.
Duduk bersama, bermusyawarah, dan cari solusi terbaik. Musyawarah adalah fondasi bangsa ini,”
Menpora.
Kemenpora Siap Ambil Alih
Sebelumnya, Erick telah melayangkan surat ultimatum kepada empat cabor tersebut dengan batas waktu tiga bulan untuk menyelesaikan sengketa internal. Artinya, KOI, KONI, dan federasi olahraga hanya memiliki waktu hingga akhir Desember 2025.
Jika sampai akhir tahun belum ada penyelesaian, Kemenpora akan mengambil alih dan membuat keputusan demi menyelamatkan atlet dan prestasi olahraga nasional,”
Erick.
Sudah terlalu lama atlet menjadi korban konflik kepentingan. Lepaskan ego pribadi, utamakan masa depan olahraga Indonesia,”
Erick.
