Peneliti dari Citra Institute, Efriza, berpendapat Presiden Prabowo akan mempertahankan gaya mikromanajemen hingga akhir jabatannya.
Namun, Efriza memperingatkan gaya tersebut berpotensi memicu keretakan dalam tubuh koalisi dan menjadi bumerang jika Prabowo berlaga dalam Pemilu 2029, bila tanpa dibarengi dengan evaluasi dan solusi.
Saat ini gaya tersebut memang berdampak positif terhadap citra presiden di mata rakyat. Potensi kekecewaan partai koalisi bakal membesar jika presiden menegur menterinya di depan publik, apalagi dengan gaya kepemimpinan saat ini.
Mikromanajer ini akan menjadi polemik. Ketika isu itu benar-benar sangat dekat dengan masyarakat, tapi yang disalahkan adalah para menteri yang (berasal) dari partai. Jelas mereka (para menteri) akan diasumsikan kinerja minus,”
kata Efriza kepada owrite.
Jika gaya mikromanajemen sebatas mencari kesalahan bawahan tanpa pemahaman riil di lapangan, hal tersebut bakal mengganggu soliditas koalisi jelang Pemilu 2029.
Hal yang dikhawatirkan, mikromanajer Presiden Prabowo lebih kepada menyalahkan, lebih kepada mengecek tanpa melakukan yang semestinya. Kalau ini yang terjadi, tentu Pemilu 2029, koalisi tidak akan sreg,”
terang Efriza.
Bahkan gaya kepemimpinannya bisa menjadi sasaran empuk kandidat penantang Prabowo.
Apakah Bapak (Prabowo) melakukan mikromanajemen ini benar-benar memahami kondisi (nyata)? Ini akan sampai pada pernyataan atau penghakiman ‘jangan-jangan bukan mikromanajer, tapi komando yang dihadirkan tanpa empati,”
sambung Efriza.
Efriza pun menyoroti paradoks informasi di sekeliling presiden. Di satu sisi, Prabowo diapresiasi lantaran kemampuannya meyakinkan investor; namun sebaliknya, ia dinilai gagap merespons isu-isu dasar rakyat Indonesia.
Ia menduga akses informasi presiden tertutup oleh orang-orang terdekatnya. Efriza mengkritik Prabowo yang menanyakan harga telur harian kepada menterinya pada dini hari.
Hal tersebut malah mengaburkan esensi masalah makro ekonomi yang tengah dihadapi negara.
Efriza pun meminta agar presiden tak menyalahkan pers dan pakar, ketika ada kebijakan menteri tidak selaras dengan publik.
Ia menyarankan Prabowo untuk lebih terbuka terhadap pihak di luar lingkarannya dan blusukan demi mendapatkan fakta konkret yang bersumber dari publik dan data.
Efriza pun kembali mengingatkan analogi Prabowo sebagai Chief Executive Officer (CEO) sebuah negara.
Keberhasilan CEO ialah mengembangkan organisasi dan memuaskan klien dalam hal ini ia sebagai kepala negara yang memahami kebutuhan rakyat.
Klien itu siapa? Ya, masyarakat. Hal ini tidak dapat dijawab oleh kalimat mikromanajer. Karena saat ini (kebijakannya) masih kontradiktif dengan masyarakat,”
ucap dia.
Pada forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, 30 Maret 2026, Prabowo mengklaim dirinya sebagai mikromanajer.
Umpama, menghubungi pejabat pada dini hari guna mengetahui harga telur harian. Gaya kepemimpinannya itu pun ia sesali, sebab sejumlah bawahannya mengalami kelelahan sehingga perlu mendapatkan penanganan medis.


