Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali mencapai titik kritis. Pada Senin, 8 Desember 2025, militer Thailand resmi mengerahkan serangan udara ke wilayah perbatasan Kamboja.
Tindakan ini menjadi respons langsung atas bentrokan bersenjata yang sebelumnya menewaskan satu prajurit Thailand serta melukai empat lainnya di Provinsi Ubon Ratchathani.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dr. Teuku Rezasyah, mengungkapkan konflik dua negara ASEAN tersebut bukan sekadar masalah perbatasan modern, melainkan bagian dari “bom waktu” yang diwariskan penjajah Eropa.
Ini adalah sisa-sisa pembagian wilayah pada masa kolonial. Prancis, saat itu, membagi area tanpa mempertimbangkan sisi sosial, budaya, atau linguistik masyarakat setempat,”
Teuku kepada owrite.id.
Menurutnya, garis perbatasan yang ditarik sepihak oleh Prancis pada masa penjajahan telah memisahkan komunitas yang sebenarnya memiliki keterkaitan erat secara historis dan kultural.
Thailand dan Kamboja Mengklaim Wilayah
Teuku menjelaskan bahwa kondisi ini membuat kedua negara meyakini bahwa area yang disengketakan merupakan hak masing-masing berdasarkan sudut pandang sejarah mereka.
Thailand merasa wilayah itu bagian dari identitas mereka, sementara pihak lain karena peta peninggalan kolonial menganggap sudah ‘menang’ secara administratif,”
Teuku.
Ia menegaskan bahwa pembagian seperti ini adalah praktik umum kekuatan kolonial seperti Inggris, Prancis, Belanda, Spanyol, dan Portugal yang membawa kepentingan politik Eropa ke Asia Tenggara.
Dokumen Kolonial Masih Jadi Rujukan
Teuku menyebut bahwa tanah asal konflik ini terletak pada fakta bahwa dokumen-dokumen peninggalan penjajah masih digunakan sebagai dasar hukum internasional.
Sejarah ditulis oleh pihak yang menang. Maka, keputusan kolonial tersebut masih menjadi referensi resmi sampai sekarang,”
Teuku.
Pakar itu juga berbagi pengalaman ketika mengunjungi sebuah museum di Kamboja. Menurutnya, masyarakat Kamboja menyimpan dan mempelajari peta-peta kolonial dengan sangat rapi. Peta itu kemudian menjadi amunisi penting dalam negosiasi perbatasan dan menjadi bagian dari edukasi generasi muda.
Faktor Geografis dan Sejarah
Teuku menambahkan bahwa persoalan ini semakin rumit karena jarak antara Bangkok dan kawasan perbatasan mencapai sekitar 600 kilometer. Dalam teori geopolitik “center–periphery”, wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan biasanya lebih sulit diawasi dan dikendalikan.
Baik Thailand maupun Kamboja mungkin tidak menyukai situasi yang diwariskan ini, tetapi dokumen-dokumen kolonial itu sudah diakui secara internasional,”
Jet Tempur Dikerahkan
Sementara itu situasi di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memanas. dimana militer Thailand secara resmi melancarkan serangan udara ke wilayah perbatasannya dengan Kamboja.
Langkah ini diambil setelah terjadi bentrokan yang menewaskan satu tentara Thailand dan melukai empat lainnya di wilayah Ubon Ratchathani, provinsi timur Thailand.
Dalam keterangan resmi, militer Thailand menyatakan bahwa pihaknya terpaksa mengerahkan pesawat tempur untuk menyerang sejumlah titik yang dianggap sebagai posisi militer Kamboja.
Thailand kini mulai menggunakan pesawat untuk menghantam target-target militer di beberapa lokasi,”
pihak militer.
Kementerian Pertahanan Kamboja membenarkan bahwa dua lokasi di wilayahnya terkena serangan udara saat fajar. Namun, mereka menegaskan tidak memberikan balasan tembakan.
Langgar Gencatan Senjata
Wilayah perbatasan dua negara beberapa hari terakhir berubah menjadi zona panas. Baku tembak antar pasukan meletus, bahkan sebelumnya menewaskan seorang prajurit Thailand.
Padahal, Thailand dan Kamboja masih berada dalam masa gencatan senjata. Namun, masing-masing negara saling menuding sebagai pihak pelanggar kesepakatan damai yang dimediasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Perang antara Thailand dan Kamboja sebelumnya pecah pada Juli lalu dan berlangsung selama lima hari. Konflik itu menyebabkan 48 orang tewas dan memaksa sekitar 300.000 warga mengungsi. Kesepakatan damai baru tercapai pada Oktober di Kuala Lumpur dengan dukungan Malaysia sebagai Ketua ASEAN.
Tembakkan Roket ke Permukiman Thailand
Di tengah meningkatnya konflik, laporan terbaru menyebutkan bahwa militer Kamboja menembakkan roket BM-21 ke salah satu area permukiman Thailand di Ban Sai Tho 10, Buri Ram, pada Senin pagi. Hingga kini belum ada laporan korban akibat serangan tersebut.
Sementara itu, The Nation Thailand melaporkan bentrokan sengit terjadi di sejumlah titik perbatasan, termasuk Chong An Ma, Hill 677, Huai Tamalia, daerah Khna, dan Prasat Ta Muen Thom.
Juru Bicara Angkatan Darat Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvaree, mengatakan bahwa Thailand kini telah mengerahkan jet tempur untuk menyerang target yang dianggap mengancam wilayahnya.
Lokasi serangan prioritas berada di Chong An Ma, Prasat Khana, dan Preah Vihear—yang diduga sebagai pos komando Kamboja.
Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga memastikan bahwa sejumlah F-16 telah diterjunkan untuk memberikan dukungan tembakan jarak dekat kepada pasukan darat.


