Bencana alam yang melanda wilayah Sumatera tidak hanya merusak fisik rumah warga, tetapi juga menghancurkan jalinan sosial yang menjadi identitas dan kekuatan desa.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pakar Sosiologi Pedesaan IPB University, Ivanovich Agusta, yang menyoroti dampak sosial pascabencana yang kerap luput dari perhatian publik.
Bencana bukan hanya merusak fisik rumah, tetapi juga merusak sistem sosial yang menjaga kerekatan dan identitas desa,”
Ivanovich dalam keterangannya, Rabu 10 Desember 2025.
Pakar Sosiologi itu menekankan bahwa kerusakan sosial seringkali berdampak lebih panjang daripada kerusakan fisik.
Pascabencana, masyarakat desa menghadapi disrupsi mendadak dalam struktur sosial dan relasi antarwarga. Salah satu dampak nyata adalah dislokasi sosial, yakni hilangnya ruang-ruang komunal seperti balai desa, musala, pasar, hingga jalan, tempat interaksi sosial selama ini berlangsung.
Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi melemah, komunikasi terganggu, dan solidaritas sosial ikut teruji,”
Ivanovich.
Selain itu, bencana memunculkan tekanan psikososial berupa rasa takut, trauma, dan ketidakpastian masa depan, yang berdampak pada menurunnya semangat kerja dan partisipasi warga dalam kehidupan sosial.
Bahkan, pranata sosial desa pun terganggu, seperti jadwal tanam petani, kegiatan kelompok tani, arisan, posyandu, hingga aktivitas keagamaan, terhenti sementara karena kerusakan wilayah dan keterbatasan akses.
Terhentinya pranata sosial ini sangat melemahkan integrasi masyarakat desa. Padahal di situlah kekuatan sosial warga selama ini berada,”
Ivanovich.
Ia pun menekankan bahwa anak-anak, perempuan, lansia, dan petani menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Anak-anak kehilangan rasa aman sekaligus akses pendidikan.
Perempuan pada akhirnya memikul beban ganda, dari mengurus kebutuhan keluarga hingga memastikan keselamatan anak dan lansia dalam kondisi terbatas.
Sementara lansia menghadapi keterbatasan mobilitas, penyakit bawaan, dan ketergantungan pada keluarga.
Petani menanggung dampak terberat dalam jangka panjang akibat lahan rusak, irigasi hancur, ternak hilang, serta berhentinya siklus produksi. Kerentanan petani ini bersifat ekologis sekaligus sosial-ekonomi,”
Ivanovich.
Rentan Konflik Sosial
Ivanovich juga mengingatkan adanya potensi konflik sosial dan kecemburuan dalam distribusi bantuan akibat ketidakjelasan data korban, minimnya transparansi, serta bantuan yang belum merata dan tidak selalu sesuai kebutuhan masyarakat.
Dalam situasi bencana, kelelahan psikologis membuat masyarakat lebih sensitif. Ketimpangan kecil saja bisa memicu kecemburuan sosial,”
Ivanovich.
Ia menambahkan, keterlibatan pemimpin lokal terkadang dipersepsikan negatif bila dianggap memprioritaskan kelompok atau kerabat tertentu. Meski demikian, bencana bisa menjadi momen tumbuhnya solidaritas.
Gotong royong biasanya sangat kuat di fase awal bencana, ketika warga saling menyelamatkan dan membantu. Namun dalam jangka menengah, kelelahan kolektif dan ketidakpastian pemulihan dapat melemahkan solidaritas,”
Ivanovich.
Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga sangat bergantung pada kecepatan, ketepatan, dan transparansi respons bencana.
Jika bantuan cepat dan adil, kepercayaan menguat. Jika lambat dan tidak jelas, yang muncul justru frustrasi dan apatisme,”
Ivanovich.
Menurut Ivanovich, pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan pemulihan psikososial, pengaktifan kembali pranata sosial, pendataan transparan dan partisipatif, pemulihan mata pencaharian warga, penguatan peran pemerintah desa, serta pembangunan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis komunitas.
Bencana bukan hanya soal hari ini, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun kembali ketahanan sosial desa untuk masa depan,”
Pakar Sosiologi Pedesaan IPB University.




