Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menyerukan agar Thailand dan Kamboja segera mengakhiri konflik bersenjata di wilayah perbatasan kedua negara. Seruan tersebut disampaikan dalam Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin 22 Desember 205.
Pertemuan ini diadakan sebagai respons atas kembali pecahnya bentrokan antara Thailand dan Kamboja sejak 8 Desember lalu, menyusul tewasnya seorang prajurit Thailand dalam baku tembak di wilayah perbatasan. Kedua negara hingga kini masih saling menuding sebagai pihak yang memicu eskalasi konflik.
Dalam forum tersebut, Sugiono menyampaikan penghargaan kepada Malaysia selaku Ketua ASEAN atas inisiatif menggelar pertemuan darurat. Ia menekankan pentingnya kedua pihak untuk menahan diri, menghentikan operasi militer, serta segera kembali ke meja perundingan.
Sugiono menilai, langkah damai harus ditempuh sesuai dengan Piagam ASEAN dan nilai-nilai persatuan kawasan Asia Tenggara. Ia juga menyoroti dampak kemanusiaan akibat konflik yang terus berlanjut. Jatuhnya korban meninggal, luka-luka, serta meningkatnya jumlah warga sipil yang mengungsi dinilai sebagai situasi serius yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Menurutnya, perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penyelesaian konflik.
Indonesia Siap Berkontribusi Aktif
Pada kesempatan yang sama, Sugiono menegaskan kesiapan Indonesia untuk berperan secara konstruktif dalam meredakan ketegangan, termasuk dengan mengirimkan personel ke dalam ASEAN Observer Team guna memantau kondisi di lapangan sesuai mandat ASEAN.
Ia juga menekankan perlunya penguatan mekanisme pencegahan konflik di kawasan, termasuk optimalisasi Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dan instrumen diplomasi ASEAN lainnya.
Pertemuan Menlu ASEAN ini dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohammad Hasan, dan dihadiri oleh seluruh negara anggota. Myanmar diwakili oleh Permanent Secretary Kementerian Luar Negeri sebagai perwakilan non-politis, sementara Vietnam hadir di tingkat pejabat tinggi.
Hasil pertemuan dituangkan dalam Chair’s Statement yang menegaskan komitmen negara-negara ASEAN terhadap persatuan, sentralitas ASEAN, serta pentingnya mengembalikan kepercayaan melalui dialog damai, baik secara bilateral maupun dengan fasilitasi Ketua ASEAN.
Pada intinya, Indonesia selalu percaya bahwa kedua keluarga kita di ASEAN, Kamboja maupun Thailand, akan menemukan jalan damai melalui dialog dengan dukungan penuh ASEAN,”
ucap Sugiono.
Thailand dan Kamboja Sepakat Mulai Dialog
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, mengungkapkan bahwa Kamboja telah menyetujui digelarnya pertemuan bilateral dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut akan berlangsung pada Rabu, 24 Desember 2025, dalam kerangka Komite Perbatasan Bersama yang telah ada.
Posisi kami adalah gencatan senjata tidak hanya datang dengan sekadar pengumuman, tapi harus berasal dari tindakan,”
kata Sihasak, seperti dilansir dari AFP.
Terkadang kita benar-benar perlu duduk dan membahas berbagai hal, agar hal-hal yang kita sepakati benar-benar berlaku dan dihormati,”
imbuhnya.
Meski demikian, Thailand menegaskan bahwa pertemuan awal ini belum tentu langsung menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.
