Upaya pencarian dan pertolongan (SAR) korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, masih terus dilakukan hingga Rabu 28 Januari 2026.
Memasuki hari kelima operasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan apresiasi atas kerja keras seluruh tim di lapangan.
Apresiasi tersebut disampaikan langsung Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto saat melakukan kunjungan kerja keduanya ke lokasi bencana pada Rabu siang 28 Januari 2026.
Dalam keterangannya, Suharyanto menyebut operasi SAR menunjukkan hasil signifikan sejak hari pertama.
Hingga hari kelima, tim gabungan berhasil menemukan total 53 korban yang telah dievakuasi menggunakan kantong jenazah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 korban telah berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
Ia juga memastikan bahwa keluarga korban yang telah teridentifikasi telah menerima santunan dari Kementerian Sosial.
BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca
Untuk mendukung kelancaran pencarian, BNPB turut menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC). Langkah ini diambil guna mengurangi intensitas hujan yang dapat membahayakan personel SAR akibat kondisi tanah yang masih labil.
Cuaca hujan terus namun kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Alhamdulilah bisa membantu walaupun tidak sama sekali menghentikan,”
ujar Kepala BNPB, Suharyanto.
Meski hujan belum sepenuhnya berhenti, upaya tersebut dinilai cukup membantu mempercepat pekerjaan di lapangan.
Suharyanto menjelaskan, ketika cuaca memungkinkan, tim SAR kembali melakukan pencarian dan evakuasi korban.
Operasi ini didukung penggunaan alat berat serta anjing pelacak untuk mempermudah pencarian di area longsoran.
Ia menambahkan, masa tanggap darurat bencana longsor ini ditargetkan berlangsung selama dua minggu dan tidak akan diperpanjang. BNPB berharap kondisi pascabencana dapat segera pulih dan terkendali.
Relokasi Mulai Dipertimbangkan
Selain fokus pada pencarian korban, BNPB bersama pemerintah daerah juga mulai melakukan pendataan dampak kerusakan. Tercatat sebanyak 48 rumah mengalami kerusakan berat hingga hancur akibat longsor.
Tak hanya itu, BNPB juga menilai perlu dilakukan identifikasi lanjutan terhadap rumah-rumah lain yang berada di zona rawan dan berpotensi direlokasi.
Badan Geologi Kementerian ESDM juga sedang mendata, kira-kira di samping 48 tadi, apakah ada rumah-rumah masyarakat yang memang harus direlokasi,”
ujar Suharyanto.
BNPB meminta pemerintah daerah segera menyiapkan lokasi atau lahan untuk relokasi warga terdampak.
Sementara itu, bagi keluarga yang saat ini mengungsi di rumah kerabat atau keluarga, BNPB akan menyalurkan bantuan dana tunggu hunian. Bantuan tersebut direncanakan diberikan mulai Januari hingga Maret 2026.
Kemudian apabila mereka memang terdampak langsung dan harus mengungsi di rumah keluarganya, tidak apa-apa, Haknya juga akan diberikan kalau rumahnya rusak, hilang, rusak berat, mereka juga mendapatkan dana tunggu hunian,”
tambahnya.
BNPB Pastikan Kebutuhan Dasar Warga Terpenuhi
Kunjungan kedua Kepala BNPB ke lokasi bencana juga bertujuan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi dengan baik.
Suharyanto menyampaikan bahwa bantuan dari berbagai pihak telah membantu meringankan beban warga korban longsor.
Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai elemen masyarakat terus terjaga hingga seluruh proses tanggap darurat dan pemulihan selesai.


