Selain regulasi, sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan sepak bola juga menjadi hal mendesak. Sepak bola harus kembali dipahami sebagai hiburan dan industri, bukan arena pelampiasan emosi atau kekerasan.
Pemain perlu memandang sepak bola sebagai profesi yang membanggakan, bukan ajang untuk saling mencederai. Jika kekerasan terus dibiarkan, maka sepak bola akan kehilangan makna, daya tarik, dan relevansinya di mata publik.
Ekosistem sepak bola Indonesia harus dibenahi secara menyeluruh, terutama di level terbawah. Struktur kompetisi sepak bola bersifat piramida, sehingga fondasi paling bawah justru memegang peran paling krusial,”
ujar Akmal.
Liga 4 seharusnya menjadi prioritas utama karena menjadi pintu awal pembinaan pemain, klub, dan ofisial sebelum naik ke level yang lebih tinggi hingga puncaknya di Indonesian Super League.
PSSI juga dituntut memiliki landasan hukum yang jelas dan tegas terhadap pelaku tindakan di luar sportivitas dan fair play. Aksi pemukulan wasit, misalnya, harus diberi hukuman berat dan konsisten agar menimbulkan efek jera.
Lingkungan kompetisi yang sehat hanya bisa terwujud jika aturan ditegakkan secara adil, tanpa tebang pilih. Profesionalisme klub, pemain, dan wasit harus benar-benar dijalankan tanpa kompromi.
Empat Insiden Brutal Sebulan, Alarm Bahaya Liga 4
Dalam kurun waktu satu bulan saja, setidaknya terjadi empat insiden kekerasan serius di Liga 4. Mulai dari kasus Muhammad Hilmi Gimnasiar (Putrajaya Pasuruan) yang menendang dada pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Anugraha Diansah, hingga dijatuhi sanksi larangan seumur hidup.
Selain itu, insiden yang melibatkan Dwi Filihanto dari KBFC di Liga 4 DIY, aksi Raihan Alfarik dari PSIR Rembang yang melakukan tendangan keras terhadap pemain Persikab Lora Rizal Limas di Liga 4 Jawa Tengah, hingga pemukulan wasit di Liga 4 Nusa Tenggara Barat oleh pemain dan ofisial tim.
Rentetan kejadian ini menjadi alarm keras bagi PSSI bahwa ada masalah serius yang tidak bisa lagi diabaikan.
DPR Desak Panggil Ketum PSSI
Maraknya aksi brutal di Liga 4 juga mendapat sorotan dari parlemen. Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Lalu Hadrian Irfani, meminta Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir memanggil Ketua Umum PSSI.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Kemenpora bersama Komisi X DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 27 Januari 2026 kemarin.
Saya berharap ini kepada Pak Menteri, tentang sepak bola kita untuk beberapa masalah terutama tentang pengembangan sepak bola kita,”
kata Lalu.
Sudah Keluar dari Nilai Sportivitas
Lalu menyoroti berbagai insiden di Liga 4 yang dinilai sudah melenceng jauh dari nilai sportivitas. Ia menyebut adanya pemain yang justru melakukan kekerasan di lapangan hingga menyebabkan cedera serius.
Kita mengetahui beberapa waktu yang lalu, ada pemain sepak bola yang tidak melaksanakan perannya sebagai pemain sepak bola. Di lapangan sepak bola justru mengeluarkan jurus-jurus kungfu. Sehingga berakibat fatal bagi pemain-pemain sepak bola yang lain,”
ujarnya menambahkan.
Pernyataan ini menjadi sorotan tersendiri, mengingat Erick Thohir saat ini menjabat sebagai Menpora sekaligus Ketua Umum PSSI.
Citra Buruk Sepak Bola Indonesia
Terlepas dari ironi rangkap jabatan tersebut, Lalu menegaskan bahwa aksi-aksi brutal di Liga 4 telah mencoreng wajah sepak bola nasional.
Apalagi, insiden-insiden tersebut dengan mudah viral di media sosial dan menjadi konsumsi publik internasional.
Ini tentu mencoreng sepak bola kita, tidak hanya di dalam negeri, tetapi ketika itu terus diviralkan melalui media-media, maka dunia internasional pun akan menonton itu,”
katanya.
Ia mengaku khawatir jika tidak ada langkah serius dari PSSI, kepercayaan publik terhadap sepak bola nasional akan kembali merosot.
Jika kekerasan terus dibiarkan di Liga 4, maka fondasi sepak bola Indonesia akan rapuh sejak awal. Sepak bola hanya akan maju jika seluruh elemen federasi, klub, pemain, wasit, dan supporter memiliki visi yang sama: membangun sepak bola yang sehat, aman, dan bermartabat.
Rivalitas seharusnya hanya berlangsung selama 90 menit di lapangan. Setelah itu, semua pihak adalah bagian dari industri sepak bola yang harus saling menjaga etika, keselamatan, dan masa depan bersama.

