BPJS Kesehatan menyatakan bahwa penyakit kronis masih menjadi tantangan bagi sistem kesehatan nasional.
Bahkan sepanjang 2025, lebih dari Rp50,2 triliun iuran peserta BPJS Kesehatan digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan terkait penyakit kronis.
Dalam data terbarunya, BPJS Kesehatan membeberkan ada delapan penyakit kronis yang paling banyak menyedot anggaran.
Penyakit jantung menempati urutan pertama yakni sebanyak 29,7 juta kasus dengan biaya Rp17,3 triliun.
Penyakit ginjal dengan 12,6 juta kasus dan menghabiskan biaya biaya Rp13,3 triliun. Terdapat 7,2 juta kasus kanker di Indonesia dengan biaya Rp10,3 triliun.
Selain tiga besar itu, ada juga penyakit lainnya seperti diabetes, stroke, sirosis hati, thalasemia, dan hemofilia.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah mengatakan angka tersebut menggambarkan betapa besarnya beban penyakit tidak menular yang kian meningkat di Indonesia.
Rizzky menambahkan dana tersebut digunakan untuk membayar layanan kesehatan pada sekitar 59,9 juta kasus penyakit kronis.
Untuk itu, lanjut Rizzky, pihaknya semakin menguatkan strategi promotif dan preventif, salah satunya melalui Skrining Riwayat Kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Dalam lima tahun terakhir, jumlah peserta JKN yang melakukan Skrining Riwayat Kesehatan meningkat sangat signifikan. Dari 2,2 juta peserta pada 2021, melonjak menjadi 79,5 juta peserta pada 2025.
Masyarakat sudah mulai sadar pentingnya deteksi dini. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula penanganannya,”
ujar Rizzky dalam keterangan resminya, Senin 2 Februari 2026.
Dari hasil skrining menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Dari 79,5 juta peserta yang telah menjalani skrining, sebanyak 34,6 juta peserta terdeteksi berisiko mengidap penyakit kronis.
Penyakit yang paling banyak muncul adalah hipertensi, stroke, dan penyakit jantung, dengan total mencapai 23 juta peserta berisiko.
Selain itu, sekitar 17 juta peserta terdeteksi berisiko mengidap diabetes melitus, penyakit yang dikenal sebagai ‘silent killer’ karena sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas.
Penyakit kronis lain yang juga teridentifikasi antara lain kanker serviks dengan 14,4 juta peserta berisiko, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sebanyak 3,3 juta peserta, serta tuberkulosis (TBC) dengan 2,4 juta peserta berisiko.
Tak hanya itu, skrining juga menemukan 2,2 juta peserta berisiko hepatitis B, 1,5 juta berisiko kanker paru, dan sekitar 1 juta peserta berisiko kanker payudara. Sisanya terdeteksi berisiko mengidap hepatitis C, thalasemia, hingga kanker usus.
