Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh di angka 5,11 persen secara year on year (yoy), dengan pertumbuhan di kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen yoy. Sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi pada 2025 ini disumbang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 2,62 persen.
Merespons hal ini, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai ada beberapa kejanggalan dari angka statistik yang diumumkan oleh BPS ini.
Cacat berpikir. Itu yang tergambar dari benak saya ketika mendengar pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 di angka 5,11 persen secara yoy, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 di angka 5,39 persen secara yoy. Ada beberapa kejanggalan,”
ujar Huda dalam keterangan tertulis Jumat, 6 Februari 2025.
Huda menyoroti, angka kumulatif pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada 2025, yang tidak melebihi angka 5,11 persen. Sedangkan kontribusi keduanya mencapai 82,65 persen, yang mana konsumsi rumah tangga sebesar 53,88 persen dan PMTB sebesar 28,77 persen.
Lantas, sumber pertumbuhan yang membuat jadi 5,11 persen dari mana? Jika dilihat dari paparan kepala BPS, pertumbuhan tertinggi adalah ekspor dengan pertumbuhan 7,03 persen,”
tuturnya.
Namun jangan lupa, ekspor tidak pernah berdiri sendiri karena ada impor (perdagangan internasional). Pun tumbuh tinggi net ekspor, kontribusinya relatif kecil, 8,47 persen, namun jadi pendorong utama? Ini jadi pertanyaan,”
sambungnya.
Huda juga menyoroti terkait PMTB yang naik tajam karena impor mesin dan perlengkapan. Tercatat pertumbuhan PMTB sub komponen mesin dan perlengkapan di angka 17,99 persen.
Di sisi lain, net ekspor diklaim menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 0,74 persen. Jadi kita tempatkan dimana IMPOR mesin tersebut?”
ujarnya.
Huda menilai, kondisi ekonomi tersebut berbanding terbalik dengan realisasi penerimaan pajak yang mengalami penurunan. Sepanjang 2025 realisasi penerimaan pajak hanya mencapai Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target APBN 2025 Rp2.189,3 triliun. Angka ini turun secara neto sebesar -0,7 persen secara yoy.
Kondisi ekonomi tersebut berkebalikan dengan kondisi penerimaan perpajakan dimana penerimaan perpajakan mengalami kontraksi cukup dalam terutama yang berhubungan dengan konsumsi (PPN dan PPnBM). Sewajarnya, ketika ekonomi baik, penerimaan pajak juga membaik. Alhasil, angka yang kontradiktif ini menjadi pertanyaan,”
tuturnya.
Adapun BPS mencatat, pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal IV-2025 sebesar 5,11 persen. Menurut Huda, bila dilihat dari perkembangan tahunan, wajar ketika konsumsi rumah tangga meningkat di akhir tahun yang sejalan dengan kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Sedangkan untuk komponen dengan pertumbuhan tertinggi pada kuartal IV-2026, yakni berasal dari PMTB tumbuh 6,12 persen yang disumbang oleh barang modal bangunan serta mesin dan peralatan.
Lagi-lagi mesin yang diimpor menjadi pendorong utama PMTB. Pertanyaan saya bagi BPS, impor mesin dan perlengkapan apakah masuk ke PMTB atau Impor atau keduanya?”
imbuhnya.

